Batas7. Bukan Menikmati Gatal

13 Februari 2009 at 00:00 1 komentar

Bismillah. Duduk di depan malu atau duduk di belakang tidak kelihatan. Penulis mencoba untuk memposisikan diri dalam Surau Al Hikmah untuk mendengarkan ceramah mingguan yang berjudul “menikmati nikmat Allah”. Ustaz Umeir yang selalu memakai baju jubah putih dan sorban dengan kuncir dibagian belakang dengan wajah “cool” memperhatikan semua jamaah yang sudah siap menyantap santapan rohani. Penulis sungguh kelihatan lapar saat itu dan memilih posisi di depan untuk mendapatkan semua “porsi hidangan” secara lebih mudah.

Dengan semangat tidak hanya memakai satu model baju dari Romawi atau mencontoh baju orang Romawi, baju melayu berwarna putih selalu Penulis pakai untuk menghadiri ceramah. Sebagian besar jamaah juga memakai baju warna putih meskipun ada yang berbeda model. Baju warna putih bukan kewajiban dalam surau tersebut, namun yang dirasakan oleh Penulis adalah kesiapan dan penghormatan. Penulis masih ingat ketika Salah seorang Adik Penulis melaksanakan walimahtuursi, keluarga yang perempuan semua memakai baju seragam berrmotif dan warna sama. mereka tentunya ingin lebih menghormati pengantin, siap melayani dan bukan ingin berbeda.

Menurut Ustaz Umeir, Nikmat Allah sungguh banyak, namun kita tidak memperhatikannya. Salah satu kenikmatan yang besar adalah napsu terhadap lawan jenis. Allah menciptakan kita berpasang-pasangan sehingga bila kita menginginkannya, mereka telah tersedia. Menikmati nikmat Allah harus dalam batasan yang Allah tentukan. Keinginan terhadap lawan jenis dibatasi oleh Allah hanya terhadap lawan jenis yang halal. Allah membuat batasan apa yang boleh kita nikmati dan apa yang tidak boleh. Menikmati apa yang didalam batasan Allah tidak mengurangi keindahan nikmat itu sendiri. Menikmati nikmat di luar batasan Allah menyebabkan kita melarat meskipun itu terasa seperti sebuah kenikmatan, seperti kenikmatan menggaruk gatal.

Menggaruk gatal menimbulkan nikmat yang semua orang pernah merasakannya. Gatal yang disebabkan oleh faktor apapun, bila digaruk menyebabkan kita ingin mengaruk lagi. Siapa yang memungkiri ini? Hanya dokter! Setelah kita tidak tahan lagi terhadap gatal yang mungkin sudah menyebabkan luka, kitapun mengunjungi dokter. Ia pasti meresepkan obat, memantangkan beberapa macam makanan dan melarang menggaruk. Kita mematuhi semua perintah dokter kecuali menggaruk. Pulang dari dokter, kita masih terus menggaruk. kenikmatan menggaruk sangat berkesan. Beberapa hari kemudian luka bertambah parah karena kesan yang ditinggalkan oleh garukan.

Ketenangan mental yang bebas rasa takut dan kekacauan pikiran juga sebuah kenikmatan. Bagaimana kita mendapatkannya selama ini? Sebagian orang mengatakan bahwa ketenangan hati diperoleh dengan duduk di café atau bar dengan mendengarkan musik hingga larut malam. Diskotik juga dipenuhi oleh orang-orang yang penat bekerja di siang hari. Allah SWT mengatakan bahwa dengan menngingat Allah hati akan tenang. Merencanakan untuk duduk di mesjid seharian dengan niat untuk menenangkan hati dapat menggantikan upaya dengan cara lain. Hilangnya kenikmatan ketenangan hati akan terpancar di wajah. Wajah orang yang hatinya tidak tenang kelihatan kusam dan kalang kabut sementara wajah orang yang tenang jiwanya akan terlihat “cool”.

Penulis Pahami

Signal analyzwer tidak dapat bekerja seperti biasa. Penulis harus menginstall ulang drivernya beberapa kali sebelum menjalankan program aplikasi. Hasil pengukuran diperlukan untuk melengkapi laporan riset. Setelah beberapa kali mencoba, akhirnya Penulis memutuskan untuk pulang, malam sudah pukul 22.00. sesampainya di rumah, Penulis memutuskan untuk langsung tidur. Mencoba tidur tidak semudah mematikan lampu. Kemacetan alat tersebut tidak dapat terlupakan. Pikiran masih pada masalah itu. Setelah satu jam, tepat pukul 23.00, Penulis menghidupkan MP3 Alquran dengan setting timer 60 menit. Satu persatu ayat Al Quran yang dikumandangkan menenangkan hati hingga akhirnya Penulis terbangun di pagi hari dengan pikiran tenang. Keesokan harinya masalah peralatan tersebut sudah ada jalan keluar.

Setahun yang lalu, ajakan untuk duduk di Café Twin Tower susah ditolak. Alasan untuk kesana adalah untuk refreshing setelah kepenatan di laboratorium. Secangkir kopi dari “starbuck” dan pemandangan orang lalu lalang menimbulkan perasaan gembira. Pulang ke rumah perasaan susah muncul kembali. Semangat beribadah memang seperti ombak di laut, kadang turun dan kadang naik. Pada saat naik, semua waktu solat terisi dengan berjamaah. Kadang kelelahan yang teramat sangat mengendorkan semangat untuk tetap berjamaah dan Penulis hanya solat di rumah. Setelah beberapa kali kehilangan solat berjamaah, Penulis mulai merasa gelisah. Kegelisahan itu terus bertambah tanpa mengetahui sebab sesungguhnya.

Penulis mencoba mengingat kapan hati ini pernah terasa tenang dalam jangka waktu yang panjang, bebas dari rasa takut dan mudah tertidur. Ternyata saat itu adalah saat Penulis rajin solat jamaah di mesjid. Ketenangan hati harus dibeli dengan mengorbankan rasa penat dan mengalahkan pikiran untuk meninggalkan solat jamaah karena kesibukan. Ketenangan hati yang didapat dari solat berjamaah jauh lebih berharga dari hilangnya rasa penat. Salam.

Entry filed under: Pembatas yang Sejuk. Tags: .

kompu5. Virus juga Software poli6. Rencana Program Studi Baru. Ada Honornya.

1 Komentar Add your own

  • 1. ali  |  3 Juni 2009 pukul 15:44

    oke la

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Kategori

Kalender

Februari 2009
S S R K J S M
« Jan    
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
232425262728  

Arsip


%d blogger menyukai ini: