Batas6. Baca Alquran untuk Paham

6 Februari 2009 at 19:07 Tinggalkan komentar

Bismillah. Turun dari laboratorium Getaran Mekanik dari lantai 5 blok R Fakultas Teknik, Solat Ashar di Surau fakultas, Penulis berjalan kaki ke depan Mesjid Ar Rahman dan menumpang bis U80 menuju KL Sentral. Jalan Briekfield selalu penuh sesak dengan orang yang baru datang dan pergi, karena tempat itu merupakan “hub” penghubung monorel dari Titiwangsa dan bus Rapid KL dari Pasar Seni.

Pemandangan di sekitar perhentian bus cukup menggoyang iman. Sebagian besar perempuan Cina berpakaian sangat minim. Mereka seperti tidak pernah berfikir tentang pakaian yang melindungi dari suhu udara yang dingin. Semuanya diperlihatkan kecuali yang memang mereka tidak ingin memperlihatkan. Lihat kiri sama dengan lihat kanan, akhirnya Penulis tetap harus menunduk atau memandang langit.

Satu jam setengah dalam bis U67 bukan waktu yang singkat, ditambah lagi kesesakan sehingga banyak penumpang harus berdiri. Seperti biasa penulis selalu mendapat “berkah” tempat duduk. Menghabiskan waktu untuk membaca buku sementara bus melaju berhasil membuat Penulis menjadi sabar, hingga akhirnya bus tiba perhentian setelah jembatan penyebrangan di depan Surau Al Hikmah, di SS19 Subang Jaya.

Azan telah berkumandang ketika tapak kaki melangkah memasuki pekarangan surau. Mengganti baju yang berkeringat dengan baju melayu putih yang bersih, Penulis berhasil mengikuti solat berjamaah secara penuh. Selesai Solat berjamaah, para santri biasanya bersalaman dengan para jamaah yang lain, sementara Penulis langsung melalukan solat sunat.

Ustaz Umeir melanjutkan ceramahnya dengan kalimat paling awal: “kita adalah orang-orang pilihan, ini adalah majelis yang amat disukai oleh Allah”. Jamaah yang mengikuti ceramah tidak sebanyak jamaah solat. Semua santri melanjutkan pengajiannya di lantai dua surau, sementara sebagian jamaah solat lainnya meninggalkan surau karena ada keperluan. Dalam surau yang indah itu akhirnya hanya tinggal sekitar 30 orang jamaah yang mengikuti ceramah dengan tekun, sebagian besar dari mereka berusia separo baya.

Ustaz Umeir memulai sebuah kisah pada masa setelah wafatnya Rasullullah SAW, masa kalifah Abubakar.ra, Umar.ra dan Ustman.ra. Pada masa Rasulullah dan para khalifah tersebut, mimbar mesjid masih berbentuk tangga dimana ketika Rasulullah SAW masih hidup, beliau duduk pada anak tangga yang paling tinggi sambil menyampaikan khutbah. Ketika Khalifah Abubakar memimpin, saat beliau menyampaikan khutbah, beliau tidak lagi duduk pada anak tangga paling tinggi, tapi turun satu anak tangga. Abubakar.ra mengatakan tidak sanggup untuk duduk di tempat Rasulullah SAW duduk. Beliau menghormati Rasulullah.

Umar.ra menjadi khalifah setelah Abubakar.ra wafat. Untuk menghormati Abubakar.ra, Umar.ra juga turun satu anak tangga, sehingga posisi Umar.ra duduk telah dua anak tangga di bawah posisi Rasulullah SAW duduk. Ia melakukan itu untuk menghormati Rasullulah SAW dan Abubakar.ra sebagai pendahulunya.

Ketika Ustman.ra mengantikan Umar.ra, Beliau duduk pada posisi Rasulullah SAW duduk. Banyak sahabat lain bertanya: “mengapa demikian”? Ustman.ra menjawab: “jika saya turun lagi satu anak tangga maka suatu hari nanti, seorang khalifah akan menyampaikan ceramah dari dasar sumur”. Pernyataan Ustman ini diterima oleh semua sahabat dan sangat masuk akal.

Menurut Ustaz Umeir, memahami ajaran Islam tidak selalu mudah. Beberapa ulama mengatakan bahwa seseorang yang ingin menafsirkan Al-Quran, ia harus memiliki banyak ilmu termasuk “asbabun nuzul”. Melihat kembali tindakan Ustman.ra dibandingkan yang dilakukan oleh Abubakar.ra dan Umar.ra menjadi sebuah contoh dari kesulitan yang dimaksud untuk memahami Islam. Tindakan siapa yang benar? Umar.ra dan Abubakar.ra atau Ustman.ra?

Kejadian seperti contoh di atas juga terjadi ketika perang Shiffin, dimana Ali.ra yang menjadi Khalifah setelah Ustman.ra harus berperang berhadapan dengan Aisyah.ra, padahal Aisyah.ra adalah wanita yang sangat mulia yang sering dirujuk dalam Al Quran sekalipun. Ali.ra sebagai khalifah yang sah memutuskan untuk menegakkan yang benar meskipun terhadap seseorang yang selama ini telah dijadikan tauladan.

Islam memiliki aturan, namun Islam juga memiliki kelonggaran. Mudah untuk kita menemukan aturan Islam, tapi kapan kita dapat menemukan kelonggarannya, sementara kita tidak disebut meninggalkan aturan Islam? Itu sulit tapi ada petunjuk. Mungkin salah satu caranya seperti disebutkan di atas adalah mengenai keterkaitan antara sebuah aturan timbul dengan hal yang lain atau “asbabun nuzul”. Adakah cara lain ketika kita tidak mengetahui “asbabun nuzul”?

Ustaz Umeir mengatakan: “ada”. bacalah Al-quran dengan rutin, misalnya selembar sehari, 10 ayat atau satu ayat sekalipun. Bila seseorang membaca alquran dengan khusuk dan ikhlas secara periodik maka ia akan dapat memahami Islam dimana sebuah kelonggaran mesti dilakukan.

Ustaz Umeir mengumpamakan lagi seorang istri yang dilarang oleh suaminya keluar rumah tanpa ijin, suatu hari rumahnya terbakar, tentu si istri akan keluar rumah bukan? Karena ia tahu bahwa suaminya tidak akan marah, karena ia punya alasan.

Penulis Pahami:

“Saya punya cerita orang Aceh” sebut salah seorang mahasiswa ITS yang berasal dari provinsi lain di Sumatra. Penulis saat itu sedang menikmati pisang goreng dan teh hangat di kantin ITS. Beberapa orang mahasiswa lain duduk mengelilingi meja yang sama. Ia melanjutkan cerita bahwa orang Aceh tidak pernah dapat nonton film di bioskop. Mahasiswa lain bertanya: “kenapa”. Ia menjawab bahwa orang Aceh bila bertemu orang lain selalu mengucap salam dan bersalaman. Mahasiswa yang bertanya tadi masih bertanya lagi: “apa yang salah, bukankah itu baik? Ia menjawab bahwa bagaimana bisa nonton film jika orang Aceh tersebut menyalami semua orang dari deretan paling depan hingga ke belakang.

Kekesalan Penulis terhadap mahasiswa yang bercerita tadi melahirkan tanggapan: “saya sudah seringkali mendengarkan cerita ini, tapi tidak pernah melihat kejadian tersebut, sekalipun ketika saya menonton bioskop di Surabaya, Jakarta, Medan dan Banda Aceh”. Ketika ditanya dari mana ia mendengar cerita itu, ia menjawab bahwa ia juga mendengar dari orang lain.

Sebuah hadis yang pernah disampaikan dalam sebuah ceramah memang dikatakan bahwa Rasulullah SAW mengucapkan salam sekalipun kepada anak kecil. Hadis lain lagi mengatakan ketika kita bersalaman maka kesalahan di antara kita akan berguguran seiring dengan kita menarik tangan. Dengan kedua hadis itu, kita sering kali melihat di Aceh, seseorang yang menghadiri pertemuan dimana ia datang terlambat, mengucapkan salam dan menyalami semua yang telah datang duluan. Tapi ini tidak pernah dilakukan di dalam bioskop. Ini sebuah ejekan, ini bukan kenyataan. Kenapa Penulis dapat mengatakan begitu?

Kembali lagi ke pendapat Ustaz Umeir di atas bahwa, memahami kapan kelonggaran boleh dilakukan adalah dengan membaca Alquran dengan rutin. Penulis ingat bahwa hampir semua orang Aceh dapat membaca Al Quran dan ketika mereka kecil memang diwajibkan oleh orang tuanya untuk mengaji secara rutin setelah solat magrib hingga solat Isya. Kebiasaan ini tentunya akan membuat orang Aceh tahu dimana kelonggaran perlu ditempatkan, sehingga mereka tidak mengucapkan salam di bioskop dan menyalami semua orang. Salam

Entry filed under: Pembatas yang Sejuk. Tags: .

rindu5. Sabun berbusa. koran? kompu5. Virus juga Software

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Kategori

Kalender

Februari 2009
S S R K J S M
« Jan    
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
232425262728  

Arsip


%d blogger menyukai ini: