rindu5. Sabun berbusa. koran?

5 Februari 2009 at 22:25 Tinggalkan komentar

Bismillah. Hari Minggu pagi, masuk kamar mandi, kita biasanya langsung membuka pakaian dan membasahi tubuh dengan air. Setelah merasa tubuh sudah cukup basah, mata akan menuju tempat atau kotak sabun. Melihat sabun sudah habis, terpaksa kita harus menghanduk badan kembali untuk mengambil sabun di rak dapur atau tempat penyimpanan sabun. Bila kita bernasib lebih sial, mungkin harus berpakaian kembali untuk membeli sabun di warung ujung jalan. Warung yang dituju tidak hanya menjual sabun tapi juga menjual koran, majalah, dan sembako. Setelah membeli sabun, kita juga membeli koran, pulang dan mandi kembali menggunakan sabun yang baru dibeli. Membaca koran dan majalah di beranda belakang rumah sambil minum teh menjadi kegiatan selanjutnya setelah mandi dan berpakaiain.

Pagi itu kita telah membeli 2 produk: sabun dan koran. Kita sangat berpengalaman menggunakan produk sabun karena kita tahu persis bagaimana produk itu berinteraksi dengan tubuh kita. Sabun mengeluarkan busa dan bau yang meransang indera penciuman kadang menyebakan mata perih akibat kemasukan cairan sabun secara tidak sengaja. Setelah mandipun kita masih dapat mencium aroma sabun yang membuat kita bersemangat pada hari itu. Bagaimana dengan produk koran? Bagaimana interaksinya dengan tubuh kita? Secara fisik atau mental?

Koran atau tulisan dalam media apapun tidak berinteraksi secara fisik seperti halnya sabun. Hal tersebut bukan karena bahan pembuatnya yang berbeda tapi memang berbeda cara berinteraksi dengan diri kita. Sulit sekali memahami produk koran jika dibandingkan dengan sabun, mobil atau pelayanan rumah sakit, sampai kita dapat menerima klasifikasi produk yang ditawarkan oleh Alfin Tofler. Ia mengatakan bahwa produk dapat dibagi empat yaitu: Barang, Jasa, Informasi dan Image.

Koran yang berada tangan kita, merupakan informasi, itu bukan kertas. Kertas putih kosong berukuran A4 yang dijual di toko alat tulis adalah kertas. Informasi dapat mengunakan media yang berbeda untuk menunjukkan eksistensinya. Sebagian besar berita di koran juga dapat dibaca melalui monitor komputer yang terhubung dengan internet. Monitor komputer menjadi media informasi di samping kertas.

Klasifikasi produk atas media akan membawa kita pada pemahaman yang lebih baik bagaimana informasi berinteraksi dengan pembaca. Interaksi informasi dengan pembaca sama sekali berbeda dengan interaksi barang seperti sabun. Informasi berinteraksi melalui memori atau pengetahuan bahasa yang terdapat pada seorang manusia. Manusia yang memiliki pengetahuan bahasa yang seimbang dengan infomasi yang diterima sajalah yang dapat menikmati informasi. Bandingkan dengan sabun, semua orang yang mempunyai kulit dapat menikmati busa sabun.

Pernahkah kita bertanya, kemana perginya informasi yang telah kita baca? Apa yang tersisa? Apa yang terlewat? Padahal kita tahu persis bahwa busa sabun yang hinggap di badan akan terbawa air pada siraman berikutnya dan menyisakan kesegaran dan keharuman di badan. Akhirnya busa tersebut akan mengalir melalui saluran air menuju sungai atau tempat pengolahan limbah sebelum dialirkan ke laut. Setiap hari kita membaca tulisan di koran, majalah atau buku, kemana informasi mengalir? Bila suatu hari kita tidak membaca koran, kita merasa sesuatu yang tidak lengkap, kenapa?

Seringkali apa yang kita butuhkan lebih sedikit dari yang kita inginkan. Aturan tersebut juga berlaku untuk informasi seperti juga untuk barang. Sikap kita terhadap informasi seharusnya juga sama. Jumlah infomasi yang kita baca setiap hari melalui koran atau majalah sering melebihi dari kebutuhan. Perhatikan sebagian besar orang yang membaca koran setiap hari. informasi apa sebenarnya yang dibutuhkan? Jika manusia tidak dapat melupakan, mungkin memorinya telah penuh hanya dengan membaca koran.

Mengapa hasil jajak pendapat menunjukkan sebagian besar sampel menyukai SBY sebagai calon presiden pada Pilpres 2009? Padahal hanya sebagian kecil dari mereka yang mengenal SBY secara langsung apalagi berjabat tangan. Kebanyakan dari mereka hanya mengenal SBY melalui koran atau media lainnya. Jika mereka tidak pernah mengenal SBY sama sekali, meskipun hanya melalui koran apakah mereka akan memilih SBY juga? Tentu tidak. Inilah “busa” informasi. Informasi menjadikan kita mempercayai orang lain meskipun kita tidak pernah mengenal orang tersebut secara langsung. Koran memberitakan selama pemerintahan SBY banyak sekali koruptor yang dipenjarakan. Pernahkah orang yang memilih SBY melihat penjara yang dimaksud? Koruptor yang dimaksud? Koran yang kita baca dapat mendorong kita mempercayai, membenci bahkan berkorban untuk sesuatu yang kita tidak pernah menginderai secara langsung.

Jika kita memilih barang dengan hati-hati sesuai dengan kebutuhan dan pengalaman kita, bukankah sebaiknya kita juga memilih informasi dengan cara yang sama? saat membeli sabun, kita tentunya punya kriteria seperti yang harum, untuk kulit berminyak atau normal. Kita mungkin memilih merek “lux” karena kita punya pengalaman merek itu sangat berkesan. Pilihlah informasi yang dibutuhkan dan punya bukti yang kuat bahwa informasi itu berasal dari orang yang jujur, ahli, pernah terbukti. Mengetahui kemana informasi mengalir dalam diri kita dan meninggalkan sisa seperti apa, akan membuat kita memilih informasi lebih sadar, bertanggungjawab dan tidak hanya menjadi dikenal sebagai orang yang “suka membaca”. “busa” informasi dapat menimbukan kesan yang lebih dalam dari busa sabun dalam diri kita, tanpa disadari. Salam.

Entry filed under: Menulis karena Rindu. Tags: .

nova5. Perbaikan Kualitas. Sehebat Jepang Batas6. Baca Alquran untuk Paham

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Kategori

Kalender

Februari 2009
S S R K J S M
« Jan    
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
232425262728  

Arsip


%d blogger menyukai ini: