batas5. Islam. Halo Pak Haji

30 Januari 2009 at 22:44 1 komentar

Bismillah.  Hujan lebat di KL Sentral dan bus Rapid KL67 yang datang hingga pukul 18.30, setelah menunggu sejak 17.30, tidak menyurutkan niat untuk tetap menghadiri pengajian mingguan yang disampaikan oleh Ustaz Umeir. Setiap minggu seperti ada kejutan baru ketika mendengarkan judul yang disampaikan sebelum mulai ceramah. Selalu ada pertanyaan di pikiran “apa judul ceramah malam ini?

Ustaz Umeir adalah seorang hafizd quran lulusan dari Darul Ulum Afrika Selatan. Setelah kepulangannya sejak 2 tahun yang lalu, beliau langsung mendirikan sebuah pusat pengajian hafidz di Kuala Lumpur, terpusat di Subang Jaya. Saat ini puluhan santri laki-laki dan perempuan telah menjadi muridnya. Setiap rabu malam, seminggu sekali, beliau menyampai ceramah yang disampaikan dalam bahasa Inggish dan bahasa Melayu.

Suatu hari Rasullulah SAW sedang duduk bersama sahabat di Mesjid, kemudian datanglah seorang laki dan mengajukan beberapa pertanyaan kepadanya. Salah satu pertanyaan yang di ajukan adalah: Apakah itu Islam? Rasullah SAW menjawab dengan rukun Islam yang sering kita kenal: syahadat, solat, puasa, zakat dan berhaji. Kemudian orang tersebut mengiyakan jawaban Rasullah SAW. Setelah orang yang bertanya itu pergi, para sahabat bertanya, “siapa orang itu?” Rasullah menjawab, “Malaikat Jibril”.

Menurut Ustaz Umeir, Islam yang termaktup dalam jawaban Rasullah mempunyai jawaban yang lebih luas ketika diperhatikan lebih dalam,: Islam adalah “way of life” atau cara hidup. Cara hidup Islam yang paling sederhana adalah makan dengan tangan, berpakaian yang menutup aurat dan duduk bersila di lantai ketika makan.

Memahami Islam hanya sebagai “religion” akan membawa kita kepada pemahaman agama bagi pemeluk agama lain. Seorang yang beragama Kristen, menemukan agamanya sebagai kegiatan yang terkait dengan gereja saja. Ketika keluar dari gereja, maka aturan hidup yang lain tidak diatur dalam agamanya. Islam tidak demikian karena Islam adalah “cara hidup” meskipun di dalamnya juga termasuk bagaimana cara solat, berpuasa, berzakat dan haji.

Pemahaman Penulis:

“Halo pak Haji”, teman penulis yang dua malam yang lalu mengikuti pengajian di tempat yang berbeda, mengomentari Penulis yang memakai topi haji putih, ketika bertemu di surau saat masuk waktu Solat. Karena telah tiba waktu solat, teman yang lain lagi meminta Penulis untuk mengumandangkan azan dengan berkata: “Ini lebih cocok anda yang melakukan”. Penulis memahami reaksi mereka setelah melihat Penulis yang memakai topi “haji” sebagai orang yang “religion”.

Memandang Islam sebagai “religion” saja akhirnya mengkotakkan pemeluk agama Islam untuk mendapat fungsi tertentu dalam agama, sebagai imam, sebagai muadzin, sebagai seorang haji. Padahal Rasullullah sendiri adalah seorang Imam, seorang haji, seorang panglima perang, pemimpin masyarakat dan banyak lagi peran yang beliau lakukan yang menempatkan beliau tidak hanya seorang yang beribadah di mesjid. Apapun yang beliau lakukan senantiasa dituntun oleh agama, sehingga beliau mengatakan apapun yang dilakukan mulailah dengan “bismillah”.

Kadang kita juga melihat sebuah keanehan yang menimbulkan banyak sekali tanda tanya, “mengapa seseorang suka mencuri milik orang lain tapi tetap terlihat khusuk solatnya?”. Ia memahami bahwa tidak salah dengan mengambil milik orang lain, karena itu berlaku di luar mesjid seperti di kantor atau di pasar. Salah seorang bendahara yang penulis kenal, ia terlihat cukup khusuk ketika solat dan sering berkunjung ke Mesjid untuk menunaikan solat jamaah, tapi ia juga sering mengambil hak orang lain tanpa izin.

Menjadikan Islam sebagai “cara hidup”, memang suatu tantangan. Kita perlu mengubah kebiasaan kita, cara makan, cara minum atau cara berniaga. “bukankah itu berarti kita tidak menjadi diri kita sendiri atau mengikuti cara orang Arab, orang Bangladesh atau kelompok orang Alim yang kita sering lihat?”

Namun ketika kita bertanya kembali kepada diri kita: “cara hidup apa yang sedang saya lakukan sekarang?” kita akan menemukan bahwa yang kita anggap selama ini sebagai diri kita sendiripun adalah sebuah tiruan atau mengikuti cara hidup kelompok tertentu. Tahukah kita bahwa yang pertama sekali makan dengan dengan sendok dan garpu adalah orang Inggrish? Tahukah kita bahwa yang pertama sekali makan atas meja juga orang Inggrish? Tahukan kita kemeja berkerah yang kita pakai, di desain oleh orang romawi? Bagaimana dengan dasi? Jika kita dengan ikhlas menjalani cara hidup orang Inggrish atau Romawi, tidak salahkan sekali-kali mencoba cara hidup orang Arab atau Kelompok orang Alim?

Banyak sekali, cara hidup kita yang sebenarnya bukan hasil pemikiran kita sendiri tapi mengikuti cara orang lain secara tidak sadar. Memakai topi “haji” dapat dilakukan ketika berjalan-jalan di Petaling Street atau di Mall MidValley, dengan niat “hari ini model kebanyakan orang yang memakai topi haji”. Besok mungkin kita memakai celana jeans dengan niat: “besok model koboi Amerika”. Mudah-mudahan esok hari tidak ada orang yang mengomentari Penulis: “Halo koboi Amerika”. Salam.

Entry filed under: Pembatas yang Sejuk. Tags: .

nova4. Kualitas menurun. Salah Siapa? poli5. Rencana Strategis. Tantangan Terjawab

1 Komentar Add your own

  • 1. someone  |  30 Januari 2009 pukul 23:44

    saya kira Islam tidak sesempit itu.. memakai topi haji, cara berpakaian dengan surban, dll itu adalah suatu “budaya” di suatu tempat, yang kebetulan tempat tersebut dimana nabi berada dulunya. terlalu luas jika dibahas disini. namun Islam tidak lah agama yang kaku, Islam mengajarkan pakailah baju yang sopan,menutup aurat..mau bagaimana modelnya..saya kira itu tidak masalah. kita terlalu terpaku dengan keadaan nabi, kelakukannya and so on saat itu tanpa memikirkan apa makna atau tujuan beliau melakukan hal tersebut. jaman terus berubah.. dan alquran telah diciptakan sesuai dengan semua jaman. jadi jangan lah menjadi seorang plagiat, namun cobalah terus menanyakan mengapa “Beliau” melakukan hal ini? memakai ini? sehingga digoyang bagaimanapun kita tidaklah goyah,karena kita mengerti apa maksud dari hal tersebut. dan Islam adalah agama yang amat sangat fleksibel, dan janganlah membuat Islam menjadi agama yang sempit. tq

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Kategori

Kalender

Januari 2009
S S R K J S M
    Feb »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

Arsip


%d blogger menyukai ini: