nova4. Kualitas menurun. Salah Siapa?

28 Januari 2009 at 20:24 Tinggalkan komentar

Bismillah. Tetangga Penulis yang juga teman satu tempat kerja mengatakan bahwa ember yang dibeli untuk menimba air di rumahnya, sudah diganti 3 kali dalam bulan ini. Dengan gaji pegawai negeri yang pas pasan, cerita ini membuat Penulis sedih. Padahal tetangga tersebut mempunyai 4 orang anak. Tentunya pengeluaranya bertambah bulan ini, sementara penghasilannya tetap, ini disebabkan ia harus membeli ember 3 buah. Ia mengatakan bahwa bulan yang lalu merek ember yang sama dipakai tanpa masalah. Bulan ini, ember-ember tersebut mengulah. Apa yang sebenarnya yang terjadi dengan ember yang dibeli bulan ini? Padahal ia membelinya pada toko yang sama seperti bulan lalu.

Coba kita ingat kembali pembahasan pada artikel nova3 menyangkut pengertian kualitas yang dikaitkan dengan suatu dimensi pada level atau tingkat tertentu. Si Ibu yang telah menyadari ia salah pilih saat membeli pisau, keesokan harinya membeli pisau yang berfungsi untuk menetak dan sekaligus memotong daging.

Kebetulan, malam sebelumnya si ibu sempat membaca artikel nova3 di https://ajannifarukyat.wordpress.com. Ia dengan jelas mengatakan kepada penjual: “tolong berikan saya pisau yang berfungsi tidak hanya untuk memotong daging, tapi juga untuk menetaknya”. Kemudian ia menambahkan: “saya ingin merek yang sama dengan pisau sebelumnya, “sikiku”, tapi hanya yang fungsinya berbeda”. Si Penjual dengan tersenyum mencari pisau yang diinginkan di rak dan memberikan kepadanya. Ia membayarnya dan pulang dengan puas dan jelas.

Hari ini adalah hari ulang tahun anaknya, si Ibu berencana memasak sup buntut, masakan kesukaan keluarga mereka. Mengeluarkan daging dari kulkas, menunggu sebentar, kemudian ia mulai menetak daging buntut yang memang penuh tulang. “Tak”, “tak”, sekali, dua kali, pada kali yang ketiga pisaunya ‘sompel” lagi. Ia berhenti menetak dan mulai mencari “kambing hitam”. Pertama sekali yang ia salahkan adalah Penulis, karena ia mengikuti petunjuk Penulis, yang kedua penjual pisau, yang terakhir dirinya sendiri. Ia tidak berputus asa, keluar dari dapur dan meminjam pisau dari tetangga yang disebut mempunyai fungsi yang sama, untuk menetak sekaligus memotong.

Pisau yang dipinjam dari tetangga berbeda merek yang pisau yang dibeli sebelumnya oleh si ibu. Ia memotong buntut sambil menyanyi; “tra la..tra la.la”. Tak, tak, tak, pisau tersebut seperti tidak peduli betapa kerasnya tulang. akhirnya ia selesai memotong tulang dan masakan siap di hidangkan. Tapi sebelum acara makan dimulai, ia mengembalikan pisau tetangganya sekaligus memberikan secawan sup buntut yang sedap. Dengan tak lupa mengingat merek pisau, “sikinu” tetangganya ia mengucapkan “thank youuuu”.

Beberapa hari kemudian si ibu pergi ke pasar mengunjugi toko yang sama tempat ia membeli pisau dulu. Ia yang bersahabat dengan istri pemilik pisau, mengatakan kepada pemilik toko bahwa pisau yang dia beli sebelumnya telah “sompel” lagi, meski dipergunakan sesuai fungsinya. Penjual pisau mengatakan: “bagaimana kalo ibu mencoba merek yang lain?” Ia langsung teringat merek pisau tetangganya dan berkata: “saya ingin merek “sikinu” jangan beri lagi lagi merek “sikiku”.

Pulang ke rumah, si ibu memakai pisau merek “sikinu” yang baru di beli, berkali-kali untuk menetak daging dan tulang dan pisau tetap seperti yang diinginkan, kuat, tidak “sompel”. Kebetulan keluarga si ibu penggemar berat sup buntut, selang sehari mereka makan sup buntut. Penulis tidak menyarankan pembaca mengikuti jejaknya.

Apa sebenarnya yag terjadi dengan pisau merek “sikiku”? apakah penjelasan Penulis pada inovasi3, salah? Sebenarnya semua kejadian yang menyangkut ember pecah 3 kali dalam sebulan, pisau merek ‘sikiku” yang patahnya, padahal dibeli untuk fungsi yang sesuai, ini adalah tanggung jawah Pabrik pemegan merek “sikiku”. Jadi kambing hitam sebenarnya bukan pada Penulis, nenjual atau si ibu. Bagaimana bisa demikian?

Penjelasan ini membuka kepahaman kita pada beberapa kelompok kata terkait dengan kualitas yang sering kita dengar seperti: “kualitas menurun” Pemakain kata ini tidak hanya untuk produk barang seperti pisau dan ember, tetapi juga jasa. “Pelayanan rumah sakit yang tidak berkualitas” atau “Kualitas pelayanan tansportasi yang buruk”.

Dengan menggunakan contoh yang sama, pisau “sikiku” nantinya penjelasan ini akan lebih konsisten. Dalam opini3 disebutkan bahwa pisau “sikiku”, yang dibeli pertama sekali dengan level kekerasan 7, kemudian pisau yang dibeli kedua dengan level kekerasan 9, dapat memotong dan menetak tulang. tapi mengapa masih rusak? Penjelasan berikut mungkin agak teknis tapi penulis yakin akan mudah dimengerti.

Pisau merek “sikiku” direncanakan dibuat pada level kekerasan 9. Penulis ingin menegaskan kata “direncanakan” bukan “dibuat” oleh pabrik pembuat pada level kekerasan 9. Segala peralatan dipersiapkan di pabrik, tungku pembakar logam dan cetakan yang berbeda dengan pisau “sikiku” level 7. komposisi cairan logam bahan yang digunakan juga berbeda, meskpin jenisnya sama. Direncanakan, Pisau “sikiku level kekerasan 7 menggunakan 3 ons bahan A dan 4 ons bahan B untuk satu pisau dan pisau “sikiku” level kekerasan 9 menggunakan 5 ons bahan A dan 2 ons bahan B. Penulis ingatkan lagi, ini “perencanaan” belum masuk tahap pembuatan.

Setelah Pisau level kekerasan 9 dibedakan komposisi bahannya dalam perencanaan, maka proses pembuatan dimulai. Penulis ingatkan, kita memasuki proses “pembuatan” bukan lagi perencanaan. Kebiasaanya untuk industri menengah, orang yang bekerja pada proses pembuatan berbeda dengan pekerja pada proses perencanaan. Pekerja pabrik yang bertugas membuat mulai mencampur “adonan” untuk pembuatan pisau “sikiku” level kekerasan 9. Ia mulai bekerja pagi hari pukul 8.00, pagi. Pagi itu, pikiran pekerja tersebut masih cerah dan bersemangat, ia bekerja sambil bersiul: “tri..li..li”. matanya terus memperhatikan petunjuk pencampuran, pencampuran yang dilakukan sesuai dengan petunjuk, 5 ons bahan A dan 2 ons bahan B.

Menjelang sore hari pukul 4.00, si Pekerja pembuatan tersebut mulai lelah, ia masih ingat perbandingan campuran, tetapi, syarafnya, badannya sudah lelah, dia ingin berhenti tapi aturan kerja sehari adalah 8 jam, ia hanya boleh berhenti pukul 5.00 sore. Ia terus mencampur, tapi sudah tidak seperti di pagi hari. Ia mulai melakukan kesalahan mencampur komposisi bahan untuk “adonan”, sehingga beberapa pisau “sikiku” yang di cap “level kekerasan 9” sebenarnya di buat bukan dari komposisi “adonan” yang direncanakan, oleh pekerja perencana.

Pekerja Pembuatan berhenti bekerja pada pukul 5.00. ia mencapai target produksi sehari perorangan sebanyak 1000 pisau “sikiku” level kekerasan 9. Ia puas dan supervisor pengawas pembuatan juga puas. Namun sebenarnya di antara 1000 buah pisau tersebut, ada 25 buah yang tidak mencapai level kekerasan 9, tapi hanya, 8, 8.5. 25 buah lagi level kekerasannya hanya 7. 50 buah pisau mencapai level kekerasan lebih dari 9.

1000 buah pisau “sikiku” yang cantumkan dengan leval kekerasan 9 siap untuk di distribusikan. Salah satu toko yang menjualnya adalah toko tempat si ibu membeli pisau, di atas. Toko tersebut menjual 15 buah dari pisau yang bermasalah tersebut, semetara 10 buah di toko yang lain. sangat menyedihkan, si ibu membeli salah satu dari pisau yang bermasalah tersebut. Perencana, pembuat, penjual, si ibu tidak mengetahui pisau tersebut tidak berada pada level kekerasan 9 seperti yang tertulis di kotak. Namun yang pasti dirugikan adalah si ibu.

Produk yang kita lihat di pasar untuk di jual, seperti mobil, rumah, permen, bahkan jarum jahit mengalami proses perencanaan dan pembuatan seperti pisau “sikiku” di atas. Kualiatas atau fungsi yang direncanakan tidak menjadi kenyataan setelah dibuat, ini kita sebut pemyimpangan. suatu penyimpangan tidak dapat dihindarkan, secara alamiah. Namun yang menjadi tantangan adalah berapa banyak produk yang menyimpang. Jika 1000 buah pisau” sikiku” level kekerasan 9 menyimpang dari perencanaan menjadi level kekerasan 7 sebanyak 25 buah, itu lebih baik dari 30 buah yang menyimpang demikian jauh. Penyimpangan yang paling baik adalah 0 atau “nol”, tapi itu tidak mungkin secara alamiah.

Si ibu suka membaca blog penulis, menjadi bertambah wawasannya, dan semakin kritis. Ia menelpon pabrik pembuat pisau “sikiku” dan menceritakan pengalamannya. Ia mendapatkan nomor telpon pengaduan, tertulis di kotak pisau: “pengaduan konsumen” telp. 645-667755. Operator “pengaduan konsumen” mohon maaf atas produknya yang tidak berkualitas. Operator berjanji akan mengirimkan pisau yang lain sebagai pengganti pisau “sikiku’ level kekerasan 9 yang rusak, milik si ibu.

Dua hari kemudia si ibu mendapatkan pisau pengganti tersebut diantar oleh Pak Pos, dikirim dari pabrik. Ia memakai pisau pengganti tersebut untuk menetak tulang, tapi tetap baik dan kuat. Ia kembali mempercayai pisau merek “sikiku”. Ia puas atas pelayanan pabrik pembuat pisau merek “sikiku”. Pisau yang dikirim kepadanya sebagai pengganti termasuk di antara pisau yang tidak menyimpang, atau yang tidak kurang dari level kekerasannya 9.

Menurunnya kualitas suatu produk adalah bertambahnya jumlah produk yang menyimpang level dimensi dari yang direncanakan, saat pembuatan. Hal ini akan berakibat semakin besarnya kemungkinan pembeli untuk memperoleh produk yang bermasalah. Jika pisau tersebut di atas laku semua, 1000 buah, berarti 25 orang pembeli akan mengalami pengalaman mengecewakan seperti si ibu.

Bagaimana jika keesokan hari, pekerja pembuat tambah tidak disiplin dan pisau yang menyimpang menjadi 200 buah pisau? Semua konsumen pemakai pisau merek “sikiku” akan mengatakan: “Pisau merek “sikiku” menurun kualitasnya”. Pemilik Pabrik yang dapat laporan dari operator “pengaduan konsumen”, akan berfikir, produknya sudah menurun kualitasnya. Untuk konsumen yang kebetulan membeli produk yang bermasalah, ia dapat mengatakan: “pisau merek “sikiku” yang saya beli tidak berkualitas”. Menurut Penulis Ada perbedaan antara kata: “tidak berkualitas” dengan “menurun kualitas”. Salam

Entry filed under: Biarkan Teknologi Berinovasi. Tags: .

baik4. Kalah, Kalah dan Kalah. Manajemen batas5. Islam. Halo Pak Haji

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Kategori

Kalender

Januari 2009
S S R K J S M
    Feb »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

Arsip


%d blogger menyukai ini: