baik4. Kalah, Kalah dan Kalah. Manajemen

27 Januari 2009 at 20:49 Tinggalkan komentar

Bismilah. 48 tahun sudah kita merdeka dari Belanda, setelah 350 tahun dijajah, kita masih terus kalah dari Belanda sampai sekarang. Mungkin kita banyak yang tidak setuju, bukankah kita sudah merdeka? Bukankah kita sudah membangun? Bukankah kita sudah memilih presiden secara langsung? Penulis melihat kekalahan dengan cara yang sedikit berbeda. Coba perhatikan kehidupan sosial and ekonomi mereka, kita jauh tertinggal. Mereka yang memiliki luas wilayah sebesar pulau Weh, pendapat per kapitanya Rp.80 juta per bulan, bandingkan dengan Indonesia yang hanya Rp. 800 ribu. Kita masih mengandalkan bahan bakar fosil untuk pembangkit tenaga listrik, mereka telah memasang 200 unit pembangkit listrik tenaga angin atau “wind energy” yang dapat membangkitkan enerrgi listrik sebesar 1000 MegaWatt. Transportasi mereka menggunakan kereta listrik dengan kecepatan 300km/jam. Jarak banda Aceh Medan dapat di tempuh dalam waktu 2 jam. Bandingkan dengan Argo Bromo, kereta terbaik Indonesia yang menempuh jarak yang sama dalam 5 jam. Mengapa kita kalah?

Banyak hal yang sudah dipikirkan oleh pemimpin Indonesia untuk membuat kita jauh lebih hebat dari Belanda. Apapun yang Belanda lakukan, kita coba ikuti, mereka dulu membuat jalan untuk kita lalui, kita juga membuat jalan. Mereka mendirikan universitas, kita pun tidak ingin ketinggalan, 55 universitas negeri kita miliki saat ini. Mungkin ratusan orang telah disekolahkan ke luar negeri, seperti Amerika Serikat, Eropa dan Malaysia. Lembaga riset dibangun di mana-mana, bahkan departemen riset dan teknologi yang pimpin oleh seorang menteri telah ada sejak jaman Presiden Sukarno. Tapi kita masih kalah.

Lumpur Lapindo, di Sidoarjo, Jawa Timur, belum pernah terjadi negara lain di dunia. Industri perminyakan Indonesia seperti kecolongan. Lumpur keluar tidak berhenti. Bukankah perusahan perminyakan nasional tersebut, memiliki engineer yang kemampuannya tidak pernah sekalipun diragukan dalam menggunakan komputer untuk membuat simulasi, perhitungan dan menghindarkan resiko? Kalah dan menyakitkan.

BPPN yang seharusnya berusaha menyehatkan perekonomian Indonesia, malah menyakiti ekonomi lebih berat lagi. Kebanyakan dari pejabat BPPN malah bekerja sama dengan pemilik bank untuk tambah menyakiti Indonesia. Kita kalah.

Melihat satu per satu pos yang kita kalah, Penulis berfikir bahwa kita tidak menerapkan ilmu “manajemen” ketika berkerja. Padahal manajemen adalah “cara manusia untuk mencapai apa yang diinginkan”. Jika ada sebagain  kita yang telah melaksanakan manajemen, itu separuh hati. Ketika setiap lembaga pemeritah diwajibkan membuat Rencana Strategis, semua membuatnya. Betul itu salah satu langkah manajemen, perencanaan. Namun ketika masuk tahapan pelaksanaan kita tidak mengerjakan seperti yang direncanakan. Ketika kita sudah mengerjakan seperti yang direncanakan, bila gagal, kita tidak mengevaluasi kenapa gagal. Bila gagal, dari pada mengevaluasi malah kita membuat rencana lain lagi. Padahal evaluasi adalah sebuah tahapan yang sama pentingnya dengan perencanaan. dalam manajemen. Kadang, kita juga mengevaluasi dan mengetahui penyebab kita gagal, tapi kita tidak memperbaiki. Kita malah menunggu, perbaikan datang dari langit. Dan yang paling merisaukan kita bahwa kita tidak pernah punya target yang jelas, kecuali, “berbakti kepada nusa bangsa”. Target adalah tahapan pertama dari manajemen, yang mendahului perencanaan.

Seorang saudara penulis yang tinggal di maroko, menceritakan bagaimana keadaan di Maroko yang infrastruktur dan fasilitas publik jauh lebih baik dari Indonesia. Menurutnya, Maroko mempunyai target yang jelas setiap tahun, pada prioritas tertentu, umpamanya, tahun 2001, mereka mencanangkan pembangunan jalan tol sepanjang 10 ribu kilometer di seluruh negara. Saat itu anggaran tidak diprioritaskan ke pembangunan yang lain seperti sekolah atau rumah sakit. Akhir tahun panjang jalan dievaluasi, sejauh mana target tersebut dapat dicapai.

Kebanyakan pemimpin kita yang mengetahui fungsi target dalam manajemen, memang lebih suka mengatakan: “tahun ini target saya bermanfaat kepada orang ramai”. Apa yang bisa kita evaluasi dari target seperti itu? Memberi senyuman kepada orang yang ia temui saat berpapasan, juga memberi manfaat. “Menaikkan investasi asing sebesar 300 triliun rupiah dalam 3 tahun” mungkin termasuk sebuah target yang sangat jelas untuk direncanakan, diusahakan, dievalusi jika tidak tercapai. Yang menakutkan dari target seperti itu, ketika tidak tercapai, publik punya alasan yang kuat untuk tidak lagi memilihnya sebagai pemimpin.

Sebenarnya melihat fungsi manajemen dari kacamata individu tidak berbeda prinsipnya dengan manajemen untuk kelompok yang lebih besar pemerintahan atau sebuah bangsa. Bila pemerintah memiliki APBN, apakah seseorang tidak memerlukan perencanaan pengeluaran pribadi? Kita sering mendengar orang berkata: “tidak tahu kemana habis uang saya, padahal di awal bulan gaji saya cukup besar”. Jika secara pribadi orang punya manajemen keuangan, tentu ia tahu kemana uangnya habis karena ia mencatat pengeluaran sebenarnya dan membandingkan dengan perencanaan. Selanjutnya ia dapat mengendalikannya pada pengeluaran bulan depan dan menyisakannya untuk menabung. Akhirnya ia menang, punya tabungan. Bila semua kita menang, maka Negara kita akan menang bukan?

Manajemen bukan apa-apa, kecuali apa-apa. tanpa pengetahuan manajemen dan menjalankan dengan konsisten, kita tidak akan mendapatkan apapun kecuali kekalahan. Kekalahan dari negara lain, kekalahan dari perusahaan lain, kekalahan dari orang lain. Akhirnya yang paling menyakitkan adalah kekalahan dari nafsu sendiri. Kapan kita mulai menerapkan manajemen dengan konsisten, dalam kehidupan sehari-hari di rumah, kantor, perusahaan dan pemerintahan? Salam

Entry filed under: Ada Rencana Perbaikan. Tags: .

poli4. Riset Pertama. Pandai Besi nova4. Kualitas menurun. Salah Siapa?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Kategori

Kalender

Januari 2009
S S R K J S M
    Feb »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

Arsip


%d blogger menyukai ini: