panggil4. Mengapa Bersama PMKTR?

24 Januari 2009 at 21:21 Tinggalkan komentar

Bismillah. “Saya ingin fokus ke kuliah saja di Surabaya”. kata-kata itu terucap saat memulai semester pertama pada program master tahun 1997 di ITS Surabaya, pada seorang famili. Satu-persatu mata kuliah berhasil di tempuh dengan nilai yang baik sampai pada suatu hari membaca berita tentang pembunuhan Tgk. Bantaqiah di Beutong Ateuh, Aceh Barat. Darah penulis seperti menjadi terbakar dan tidak dapat mengeluarkan kata-kata. Cerita pembunuhan itu sangat menyayat hati, karena diawali dengan pengalian lubang untuk mereka sendiri sebelumnya kemudia dibariskan dan ditembak satu persatu.

Perasaan tidak dapat menerima perlakukan seperti itu kepada orang Islam, orang sedaerah memicu kemarahan Penulis yang tidak tertahan. “jangan lakukan itu”, “adili pelakunya” Berteriak kepada siapa? Siapa yang mendengar? Penulis hanya dapat termenung dan berfikir keras apa yang dapat dilakukan agar hal ini tidak terjadi lagi? Ada satu nitat dalam diri Penulis, Orang-orang harus tahu apa yang terjadi di Aceh, sementara banyak orang tidak mengetahui bagaimama kekerasan di Aceh, sehingga aka nada dorongan dari Pemerintah untuk mengendalikan Operasi Militer dengan bertanggung-jawab. Kenyataan harus dipaparkan dan ketidaksetujuan harus dinyatakan.

Setelah selesai membaca berita tersebut selengkapnya, Penulis menuju ke ruangan kantin ITS dimana rekan-rekan mahasiswa yang peduli tentang masalah sosial sering duduk dan berdiskusi. Penulis mencoba memperkenalkan diri kepada mereka dan menceritakan apa yang terjadi di Aceh dua hari yang lalu. Seperti tidak percaya akan kejadian tersebut, mereka bertanya dan bertanya lagi, hingga penulis membawa koran lokal yang memuat berita terkait.

Sendirian, dengan argumentasi yang didasari pada kenyataan dan kondisi sesungguh di Aceh, akhirnya mereka menyatakan simpati dan siap untuk mendukung diadakan sebuah demonstrasi menuntut keadilan terhadap pembunuhan di Aceh. Perencanaan dibuat untuk melakukan demonstrasi di Bundaran ITS, pada hari H. Sebuah panitia kecil dari Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI) dibentuk.

Pagi, pukul 12 siang, ketika Mahasiswa sedang menikmati makan siang di kantin utama, Penulis diberikan waktu untuk berbicara masalah Aceh dan apa yang terjadi di Aceh. Tidak membuang kesempatan, Penulis yang belum pernah memiliki kesempatan seperti itu sebelumnya, seperti tidak mengenal malu atau segan berbicara di depan berpuluh-puluh mahasiwa dari berbagai jurusan. Akhir dari penyampaian, Penulis menyanyikan sebuah lagu yang berjudul: “Daerah Aceh Tanoh Lon Sayang”. Lagu tersebut jauh sekali dari bunyi yang merdu kecuali semangat untuk menuntut keadilan.

Mahasiswa yang disibukkan dengan urusan kuliah, apalagi berada di Surabaya yang jauh dari tempat kejadian, seperti dikejutkan oleh kenyataan yang ada, sehingga mereka menunjukkan perhatian yang sangat besar dengan bersedia menyumbangkan uang untuk konsumsi acara demonstrasi. Uang yang terkumpul juga dipergunakan untuk membeli spidol dan karton guna menulis pamflet tulisan yang menjadi tuntutan.

300 mahasiwa berkumpul di kantin dan mulai bergerak ke bundaran. Para wartawan yang sudah mendapat berita akan diadakan demonstrasi untuk Aceh tidak meninggakan kesempatan memperoleh berita, mereka mengikuti para demonstran sejak pagi. Di Bundaran ITS, beberapa pembicara mulai meneriakkan kata-kata yang menuntut keadilan bagi korban tragedi Aceh. Penulis mendapat kesempatan untuk menyampaikan orasi di Bundaran ITS bersama dengan para tokoh mahasiswa lainnya.

Keesokan harinya, Hampir semua koran kota Surabaya memberitakan tuntutan Mahasiswa ITS untuk mengusut kejadian pembunuhan di Aceh. Penulis akhirnya didatangi oleh seorang Polisi yang minta diberitahukan jika akan dibuat demo lagi. Menurutnya, Ia akan menjaga agar demo menjadi tertib. Bukankah mereka akan lebih mudah menggagalkan?

“Bang, kepengurusan Pemuda Mahasiswa Kerukunan Tanah Rencong, telah habis masa aktif, sekarang kita memerlukan ketua baru, bersediakah Abang?” seorang mahasiswa yang berasal dari Aceh, menjumpai Penulis untuk menyampaikan niatnya. Dengan tidak merubah rencana awal, untuk memfokuskan diri pada kuliah , Penulis menolak dengan halus keinginan itu. Beberapa hari kemudian, dengan beberapa orang teman, mahasiswa tersebut datang lagi menemui Penulis, menurutnya Penulis perlu membantu membangun organisasi tersebut. Dengan Pertimbangan masih cukup waktu tersedia untuk studi dan berorganisasi akhirnya Penulis memimpin selama 1 tahun,  namun sepenuhnya aktif selama 6 bulan.  Salam.

Entry filed under: Menjalani Panggilan Hati. Tags: .

batas4. berbuat salah karena Iman lemah Kompu4. Hardware. Butuh Cepat?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Kategori

Kalender

Januari 2009
S S R K J S M
    Feb »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

Arsip


%d blogger menyukai ini: