batas4. berbuat salah karena Iman lemah

23 Januari 2009 at 11:19 Tinggalkan komentar

Bismillah. Perjalanan ke surau al Hikmah, membutuhkan waktu berbeda-beda menurut keadaan, kadang Penulis menghabiskan waktu 30 menit, 60 menit, 120 menit atau bahkan 150 menit. Bis U67 route KL Sentral Subang jaya, bisa sangat terlambat jika mendekati waktu magrib karena macetnya jalan saat waktu pulang kerja. Waktu terbaik adalah setelah Sholat Asar. Suatu hari Penulis tidak dapat lagi mencapai Surau Al Hikmah, saat magrib tiba. Penulis memutuskan untuk solat bukan di surau tujuan tapi di Masjid sekitar Subang Parade. Karena terlambat, Penulis tidak mendapatkan jamaah lagi.

Duduk setelah solat, Penulis memperhatikan indahnya masjid tersebut dengan lampu yang tertanam di plafon, menerangi ruangan mesjid secara eksostik, seperti mall. Indahnya. Seorang penceramah berceramah dengan nada yang tinggi dan seperti marah-marah. Penulis tertarik melihat ia berceramah bukan karena isi ceramahnya, tapi kemarahannya. Ia berkata: “kita ceramah suara keras salah, nanti orang kata: ustaz itu suaranya keras betul”, “kita ceramah suara kecil salah, nanti orang kata: ustaz itu suaranya lemah betul”. Rupanya penceramah mengatakan bahwa sedikitnya orang yang mengunjungi pengajian disebabkan setiap orang punya alasan mengapa mereka tidak perlu hadir. Apa sebenarnya alasan mereka yang tetap duduk mendengarkan ustaz tersebut meskipun ia marah-marah?

Penulis mencoba menangkap apa sebenarnya ingin disampaikan oleh penceramah tersebut meskipun sulit untuk ditemukan karena ketidakteraturan penyampaiannya, disertai dengan intonasi yang tinggi dan rendah. Mungkin ada benarnya apa yang ustaz itu sampaikan, bahwa jamaah selalu punya alasan, termasuk Penulis. Penulis terus duduk disana untuk mendengarkan meskipun tidak dapat dengan mudah menangkap apa yang sebenarnya ingin disampaikannya.

Di akhir ceramah ada sebuah point yang setidaknya menjadi point untuk penulis. Ia mengatakan bahwa untuk menjaga iman tetap kuat ada tiga hal yang harus dilakukan. Pertama, menghadiri solat berjamaah di masjid, kedua, bertasbih setelah solat. Ketiga, mengikuti pengajian.

Penulis Pahami.

“Saya pernah berbuat salah dan bertobat, tapi mengapa saya mengulangi lagi kesalahan saya, hingga saya perlu menyesal dan bertobat lagi?” ini pertanyaan yang datang dalam diri Penulis. Pertanyaan ini mungkin juga pernah menjadi pertanyaan bagi orang lain.

Suatu saat dalam hidup Penulis, memiliki keinginan yang sangat besar untuk berbakti kepada orang tua, sesuai dengan keyakinan bahwa berbuat baik kepada orang tua adalah ibadah yang akan membuat Allah ridha. Namun oleh perjalanan waktu, tempat, ingatan, keinginan baik itu jadi berkurang dengan bertambahnya ingatan yang lain, misalnya tentang mencari kebutuhan hidup. Ingatan Penulis dipenuhi oleh hal lain yang juga penting. “apakah sesuatu yang di perintah agama, seperti berbakti kepada orang tua, tidak penting?” “iya, itu juga penting, namun kelupaan”, itu jawabannya.

Suatu hari bila kita ingat kembali bahwa kita sudah menyia-nyikan Sesuatu yang penting karena kita lupa, kita akan mengutuk kelupaan kita itu. Misalnya kita lupa menutup jendela ketika meninggalkan rumah, sehingga hujan yang sangat deras membasahi ruangan dalam. Padahal lupa adalah sesuatu yang tidak dapat disalahkan bukan? Kita terlupa solat juga tidak dapat salahkan bukan?

Bila kita diingatkan bahwa selama ini banyak sekali kelupaan yang terjadi, bukankah sebaiknya “kelupaan” itu yang perlu disembuhkan? Bagaimana caranya? Kita berbuat salah hanya oleh dua penyebab: tidak tahu atau lupa. Untuk alasan Pertama, kita dapat memperbaiki dengan belajar agar tidak salah. Bagaimana karena lupa? Artinya kita sebenarnya telah tahu sebelumnya. Bila Iman hanya untuk orang yang berakal atau untuk orang yang tidak lupa, tentunya menjaga iman berarti menjaga agar kita tidak lupa bukan?

Semenit lalu cukup membuat kita lupa, berapa ekor nyamuk yang mengigit kita. Sejam yang lalu cukup membuat kita lupa, berapa orang yang duduk di samping kita saat makan pagi di warung. Sehari yang lalu cukup membuat kita lupa warna apa mobil yang hampir menabrak kita di lampu merah. Seminggu yang lalu cukup membuat kita lupa kita pernah menangis dalam solat mengingat akan mati.

Untuk menjaga iman kita tetap pada jalan yang kita inginkan, sebaiknya kita perlu melakukan sesuatu secara rutin, khusus untuk menghindarkan lupa “kenapa kita menjadi beriman”. Mengikuti ceramah mingguan, solat berjamaah lima waktu di mesjid dan menghadiri pengajian seminggu sekali, adalah alternative solusi. Salam.

Entry filed under: Pembatas yang Sejuk. Tags: .

rindu4. Kenapa Menulis? tidak bosan? panggil4. Mengapa Bersama PMKTR?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Kategori

Kalender

Januari 2009
S S R K J S M
    Feb »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

Arsip


%d blogger menyukai ini: