poli3. Mengajar. Gengsi, Gaji, atau Kasihan

19 Januari 2009 at 22:45 Tinggalkan komentar

Bismillah. Mengajar atau sedang apa? Ini menjadi pertanyaan di pikiran Penulis jika mengingat dosen pada kuliah-kuliah yang dilalui selama di perguruan tinggi. Beberapa mata kuliah yang dipegang oleh dosen yang berbeda selalu memberikan kesan yang berbeda, hingga suatu hari Penulis juga menjadi pengajar, dan pertanyaan itu muncul.

“Nilai A untuk saya, B, C, D, E, untuk kalian”, kata-kata dosen yang mengajarkan Penulis mata kuliah “A” ketika di bangku kuliah S1, di salah satu perguruan tinggi terbaik di Indonesia. Saat itu adalah hari pertama kuliah. Di akhir masa kuliah, Nilai mahasiswa berkisar 50% mendapat D, 10% mendapat nilai E dan 40% mendapat nilai C. Penulis dapat nilai apa? D. Tentu juga tidak arif untuk mengatakan ini semua kesalahan dosen tersebut bukan? Mungkin di tulisan yang lain Penulis akan membahas kekurangan mahasiswa.

Penulis sendiri pernah terprovokasi untuk melakukan hal yang sama, seperti dilakukan oleh dosen yang mengajar mata kuliah A tersebut, terhadap mahasiswa ketika melihat dosen yang lain melakukannya, meski dulu Penulis tidak menyukai perilaku seperti itu. Sebagian dosen yang punya kecenderungan untuk menjadikan ruangan kelas, sebagai ajang demonstrasi “betapa hebatnya saya” disebabkan ia tidak merasa cukup hebat di luar ruang. Dari semester ke semester dosen tersebut melakukan hal yang sama, sehingga menjadi “trade mark” dan setiap mahasiswa di tahun yang berbeda mendengarkan kalimat yang sama. apakah gengsi yang menjadi tujuan mengajar?

Dosen lain yang mengajar mata kuliah “B” menulis semua isi buku yang diajarkannya di papan tulis, kemudian ia bertanya: “ada pertanyaan?”. Salah seorang teman Penulis bertanya: “Pak kita belajar teknik mesin sudah beberapa semester, sebenarnya apa definisi mesin?” Dosen tersebut menjawab:”tidak dapatkankah kamu bertanya dengan pertanyaan yang lebih bermutu?”, kemudian kuliah di akhiri.

Beberapa orang dosen lebih menyukai untuk menuliskan teori yang ada di buku atau memindahkan tulisan dari buku teks ke papan tulis. Penulis yang duduk dalam ruangan kuliah merasa sangat bosan mengikuti kuliah seperti ini. Selang beberapa menit setelah menuliskan beberapa kalimat di papan tulis, kemudian ia keluar ruangan dengan alasan ada yang mesti dikerjakan. Selanjutnya, mahasiswa diberikan fotocopi saja. Penulis kadang juga melakukan hal ini, jika mempunyai tugas lain yang mendesak.

Perilaku dosen seperti pengajar mata kuliah B yang sudah menjadi kebiasaan, bila dilihat lebih jauh, adalah untuk memenuhi tuntutan perkerjaan, dimana ia pantas digaji karena telah berkerja. Dosen dalam kelompok ini masih berfikir bahwa mengajar adalah profesi yang menyangkut absensi atau kehadiran untuk dibayar. Belakangan mahasiswa meniru cara dosen dalam kelompok ini dengan “titip” tanda tangan, bila mereka tidak hadir.

Lain lagi cerita dosen mata kuliah C, ia selalu tidak keluar dari ruangan kuliah setelah kuliah selesai, mahasiswa tidak berhenti mengajukan pertanyaan, dan semua pertanyaan yang bermutu atau tidak bermutu dijawab dengan rasa kasihan. Dosen tipe ini ketika penulis masih di bangku S1, jumlahnya sangat sedikit. Mereka umumnya dosen muda yang belum lagi dihadapkan pada tuntutan kebutuhan hidup yang banyak. mereka menghabiskan waktu di kampus. Ingatan mereka masih sangat segar tentang bagaimana mereka dulu di bangku kuliah. Mereka menyadari sepenuhnya apa yang menjadi keinginan mahasiswa, mereka lebih mengerti mahasiswa.

Pertengahan tahun 1996, Penulis dikirim untuk mengikuti pelatihan pendidikan pengajaran di Pusat Pelatihan Pengajaran Politeknik, di Bandung. Pendidikan ini mengajarkan Penulis bagaimana cara mengajar dengan skill yang berlandaskan “science”. Beberapa modul diperkenalkan seperti, teori motivasi, kurikulum, silabus, persiapan bahan ajar, metode presentasi dan teknik menilai. Penulis akhirnya dapat menemukan jawaban bahwa mengajar bukan karena gengsi, gaji atau kasihan, tapi untuk mencerdaskan. Mengajar bertujuan mencerdaskan dengan berlandaskan metode yang telah diteliti. dikembangkan dan dievaluasi oleh ahli pendidikan di dunia, yang termasuk dalam riset “social science”. Salam.

Entry filed under: Jejak di Politeknik. Tags: .

Kompu3. Software bukan Pameran baik3. Orang Malaysia Asli Asia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Kategori

Kalender

Januari 2009
S S R K J S M
    Feb »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

Arsip


%d blogger menyukai ini: