batas3. Nikmat, Ingatan yang Terlupa

16 Januari 2009 at 21:17 Tinggalkan komentar

Bismillah. Ceramah rabu ini masih berhubungan dengan minggu yang lalu, tentang nikmat yang berhubungan dengan syukur. Apa sebenarnya yang kita syukuri atau berterimakasih kepada Allah?

Dalam kehidupan sehari-hari, sesuatu yang kita peroleh seperti tidak membuat kita puas. Setiap hari kita terus berusaha untuk mendapatkan target-target kita, apakah itu uang, hubungan baik dengan orang lain atau sekedar membuang air besar. Kadang kala apa yang kita cari hanya untuk menyamai apa yang dimiliki oleh tetanga sebelah. Namun setelah kita miliki hal yang sama, kita masih ingin menyamakan lagi dengan tetangga yang di sebelahnya lagi. Ini tidak pernah membuat kita puas dan bersyukur.

Suatu hari, ada seseorang yang buta dan tuli. sahabat menanyakan pada Umar ra. “Nikmat apa yang dapat disyukuri oleh orang tersebut?” Umar bertanya kembali, “apakah ia bisa buang air besar?” sahabat menjawab: “bisa”. “Itulah nikmat Allah yang mesti disyukuri”, jawab Umar ra.

Suatu masa ada seorang raja yang sangat kaya. Ia minta kepada seorang ulama untuk mendoakannya. Saat itu, menjadi kebiasaan raja-raja mengundang ulama ke istana untuk diajak makan bersama dan setelah itu diminta untuk berdoa. Ulama tersebut dengan penuh kesungguhan berdoa agar raja diberi nikmat buang air besar. Mendengar doa yang demikian, raja sangat marah. Ia berkata: “mengapa saya di doa’kan, seperti itu, bukankah itu sangat sepele?” si ulama hanya terdiam dan tak lama kemudian ia pamit untuk pulang. Selang beberapa minggu kemudian, Raja tersebut tidak dapat buang air besar selama 3 hari. Ia di merasa susah yang tidak terkatakan, keringat dingin keluar dari tubuhnya. Pada hari keempat, ia memanggil semua tabib kerajaan untuk memudahkannya buang air besar, namun tidak berhasil. Selanjutnya ia membuat pengumuman bahwa siapa dapat memberikan obat untuk kemudahan membuang air besar, ia akan memberikan setengah dari kerajaannya.

Ulama yang pernah diundang ke istana dahulu, dipanggil kembali ke istana. Ia tidak tahu apa sesungguhnya keperluan raja. Kemudian ia diminta untuk mendoakan raja agar dapat buang air besar. Mengingat kejadian dulu, Ulama tersebut merasa sangat segan. Tapi dengan keihklasan ia mendoakan juga. Akhirnya raja kembali dapat merasakan nikmat buang air besar.

Pemahaman

Kebutuhan hidup yang datang terus menerus sering membuat kita terlupa bagaimana menikmatinya, padahal kepuasan kita peroleh saat kita menikmati, bukan saat kita berusaha mendapatkan. Kadang apa yang sudah kita dapatkan, kita melupakan. Selama ini, ketika kita memperoleh uang dalam jumlah besar, umpamanya, 30 juta rupiah. Dalam beberapa hari, kejadian memegang uang saat mencarikan cek, menimbulkan perasaan puas yang menyenangkan. Beberapa minggu kemudian kita mulai melupakan kejadian “mencairkankan cek’. Pikiran kita sudah dipenuhi dengan bagaimana mendapatkan 30 juta rupiah berikutnya. Kita kembali bekerja untuk mendapatkan, saat yang 30 juta pertama belum habis kita gunakan. Bayangkan jika 30 juta itu berlipat terus sampai kita mati, kita tidak sempat menikmati.

Menikmati yang Penulis maksudnya adalah tindakan aktif, misalnya kita menyediakan waktu luang selama satu jam dalam sebulan, tidak mengerjakan apapun, mungkin seperti orang yang berfikir, tapi kita sedang mengingat. Kita mulai dari mengingat kejadian, sehari sebelum ujian semester pada tahun pertama diperguruan tinggi, kesusahaan saat itu seperti kembali hidup dalam diri kita. Kemudian kita mengingat kembali saat kita melihat pengumuman nilai dua minggu kemudian. Setelah ujian, kita merasa tenang, senang atau bangga karena telah lulus. Kelulusan kita saat itu mungkin dengan nilai yang sangat memuaskan atau pun kurang memuaskan. Perasaan kurang memuaskan, tidak membuat kita berkecil hati, karena ada teman kita yang jauh lebih rendah nilainya dari kita. Kita pun merasa senang atau tenang dalam ingatan. Meskipun kejadian itu sudah 5 atau 10 tahun yang lalu, selama kejadian itu dapat kita hadirkan kembali dalam ingatan, pengaruhnya terhadap perasaan, timbulnya rasa gembira sama saja seperti terjadi sejam yang lalu.

Ingatan sering bekerja tidak adil, ia hanya mengingatkan kita, apa yang tidak dapat kita peroleh, kita kalah, kita kehilangan, meskipun apa yang dapat kita peroleh, kita menang, kita pertahankan jauh lebih banyak. Kita teringat bagaimana kita dipukul oleh teman saat berkelahi, tapi kita lupa kita juga berhasil untuk memukul kembali. Kita teringat kita pernah mendapatkan nilai yang buruk saat ujian di SD, tapi kita lupa bahwa ada satu mata pelajaran yang kita mendapat pujian dari guru atau teman-teman. Kita teringat bagaimana kejamnya orang tua kita yang memukul kita ketika tidak mengikuti perintahnya, tapi kita lupa bagaimana orang tua kita bekerja siang dan malam untuk memenuhi kebutuhan kita.

Bersyukur terhadap nikmat, adalah pekerjaan yang aktif dan penuh kesengajaan, sehingga wajar diberi pahala. Mari kita mensyukuri nikmat secara lebih komprehensif. Jika default ingatan kita hanya menampilkan hal-hal yang kita kalah atau kehilangan, sediakan waktu untuk mengingat hal-hal yang tidak menjadi perhatian kita dulunya, bahwa disana ada kelebihan, kebaikan, kemenangan, kesabaran yang hanya kita memiliki, kebanyakan orang lain tidak. Salam

Entry filed under: Pembatas yang Sejuk. Tags: .

rindu3. Arus Informasi. Hati-hati memilih panggil3. Barisan Ishlah Mencorak

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Kategori

Kalender

Januari 2009
S S R K J S M
    Feb »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

Arsip


%d blogger menyukai ini: