rindu3. Arus Informasi. Hati-hati memilih

15 Januari 2009 at 20:28 Tinggalkan komentar

Bismillah. Pernahkah kita punya pilihan untuk mempercayai omongan siapa yang akan terbukti? Kita merencanakan acara Pameran Industi Kecil dan Menengah, di ruang terbuka. Beberapa hal disiapkan, termasuk memperkirakan akan terjadinya hujan pada hari pameran tersebut. Kita menginginkan pada hari H tidak turun hujan. Ada orang yang mengatakan pada tanggal yang kita pilih akan turun hujan, sementara beberapa orang lain mengatakan tidak. Akhirnya kita memutuskan untuk mempercayai informasi bahwa pada hari yang direncanakan tersebut tidak akan turun hujan. Akhirnya kita membuktikan bahwa informasi yang kita percaya ,salah. Hujan turun pada hari tersebut dan sedikit sekali pengunjung yang datang.

Tanpa kita sadari pertanyaan yang timbul dalam diri kita ataupun yang ditanyakan oleh orang lain, selalu mempunyai lebih dari satu jawaban. Kita terpaksa memilih mana jawaban yang betul. Jika jawaban tersebut menyangkut kejadian masa depan, jika kita salah memilih, kita akan dirugikan di masa depan. Umpamanya dalam menentukan pekerjaan apa yang paling cocok untuk kita. Kita menyadari bahwa setiap orang seharusnya memilih pekerjaan menurut bakat, kemampuan dan minatnya. Dalam menilai kemampuan diri kita sendiri, ada orang yang mengatakan bahwa kita sangat berbakat dalam berbicara dan membujuk orang lain. Orang lain lagi mengatakan kita tidak mempunyai bakat apapun. Yang mana akan kita pilih?

Arus informasi adalah suatu keadaan dimana sekeliling kita memberikan banyak sekali pilihan mana jawaban yang benar untuk pertanyaan yang tanpa disadari dalam diri kita. Ketika informasi tersebut mengalir di depan kita dengan nada yang tinggi, rendah, merdu atau seperti bersiul, kita tidak sengaja akhirnya memilih mempercayai informasi yang tidak akan terbukti atau salah. Kita masih ingat, ketika orang tua kita mengatakan: “jangan habiskan waktu hanya bermain, tapi belajar”, beberapa menit kemudian kita keluar rumah, teman diluar mengatakan: “ayo kita pergi memancing”. Sebelum kita keluar rumah, kita melewati televisi, televisi seperti berbicara: “mari menonton film ini”. Apa sebenarnya pertanyaan yang mendahului ketiga jawaban tersebut? Pertanyaannya adalah: “apa yang akan kita lakukan dalam dua jam ke depan?”

Setiap orang memilih informasi dengan latar belakang yang berbeda. Orang yang mengganggap bahwa belajar lebih dekat kepada tujuan yang lebih besar akan memilih untuk menghabiskan waktu dengan belajar. Orang yang yang mengangap bahwa menonton tv lebih baik dari memancing, ia memutuskan untuk tinggal di rumah saja sambil menonton tv. Orang yang memutuskan untuk pergi memancing mungkin saya mempercayai bahwa ajakan teman jauh lebih berharga untuk dipenuhi.

Latar belakang kita memilih informasi sering kali tidak sejelas pilihan informasi itu sendiri. Seorang yang memilih memancing bersama teman, secara tidak sadar, dalam dirinya di motivasi oleh: “menghargai ajakan teman itu perlu”. Orang yang memilih menonton televisi, ia mendengar dalam dirinya: “lebih enak menonton TV”.

Untuk memilih yang paling baik, kita perlu memutuskan apa yang paling baik untuk kita, bukan meniru orang lain, atau mengikut pendapat orang lain. Sering apa yang paling baik untuk kita adalah yang orang katakan baik, bukan yang dari pengalaman kita sebagai sebuah kebaikan. Bila kita mempunyai uang Rp. 20 ribu rupiah, dengan perut sangat lapar, bukankah nasi yang paling baik buat kita, sesuai pengalaman kita? Namun orang lain dapat mengatakan bahwa sebuah baju baru atau sebungkus rokok lebih baik, karena orang lain pasti tidak merasakan laparnya kita.

Saat ini kita hampir tidak mempunyai masalah dengan kekurangan informasi, ini ciri-ciri “era informasi global”. Kita dapat mengetahui tentang perang di Gaza tahun 2008, setiap detik. Namun kita akan melihat perbedaan berita dari media yang diterbitkan oleh orang Arab, orang Amerika, orang Cina atau orang Israel sendiri. Berita ini saling berbeda. Mana yang akan kita percayai sebagai suatu kebenaran misalnya pertanyaan “siapa yang bersalah dalam perang tersebut?”

Informasi lahir dalam bentuk yang bermacam-macam seperti teriakan orang yang hanyut dibawa air di sungai, bunyi alarm jam untuk membangunkan kita dipagi hari, panggilan azan, papan reklame, tulisan di majalah, berita di koran, buku teks yang di pakai oleh pelajar, pengumuman bahkan tangisan seorang bayi.

Pada tanggal 26 December 2004, pukul 7.30 pagi, setelah gempa, sebagian orang yang masih berada di pantai Lhoknga dapat melihat tingginya gelombang laut jauh di tengah laut, mereka berlari menuju kampung dan meneriakkan informasi: “air laut naik”. Sedikit orang yang mempercayai informasi itu. Sementara itu, masih di Lhoknga, suatu hari pada tahun 2007, sirene Tsunami yang terpasang di pinggir laut, meneriakan informasi adanya tsunami: “ngiiiiiiiiiiiiiiiiing”. Hampir semua orang mempercayainya dan mereka lari untuk menyelamatkan diri, ternyata sirine rusak. Begitulah kebanyakan informasi yang kita percaya, kejadian dibalik informasi tersebut tidak mudah untuk kita selidiki atau kita buktikan saat itu. Saat kita menyadari kita salah, kita sudah tidak punya waktu untuk memperbaiki kepercayaan tersebut.

Bukankah sebaiknya kita memeriksa semua informasi yang tidak sengaja kita percayai, ketika kita masih punya waktu? seperti “menghargai orang lain akan membuat kita dihargai” atau bahkan yang meminta kita untuk percayainya seperti: “Gudang Garam Merah menjadikan anda lelaki sejati”? kita punya cukup waktu untuk mengevaluasinya. Mungkin lebih jauh lagi kita juga perlu mempersiapkan diri bagaimana harus memilih informasi jika suatu saat kita tidak punya waktu untuk mengevaluasinya, seperti teriakan Tsunami. Salam.

Entry filed under: Menulis karena Rindu. Tags: .

nova2. Petani juga bisa riset batas3. Nikmat, Ingatan yang Terlupa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Kategori

Kalender

Januari 2009
S S R K J S M
    Feb »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

Arsip


%d blogger menyukai ini: