nova2. Petani juga bisa riset

14 Januari 2009 at 20:28 Tinggalkan komentar

Bismillah. Riset menjadi kata yang tidak asing di telinga para staf pengajar perguruan tinggi. Sejak peraturan pemerintah mengenai fungsional dosen, atau sebuah aturan untuk dosen naik pangkat, riset menjadi topik yang selalu dibicarakan. Dalam lingkungan kampus kita sering mendengar staf pengajar mengatakan: “proposal riset saya mendapat dana”, lain lagi: “saya baru saja mempresentasikan hasil riset di depan team penilai”.

Seorang pandai besi yang sedang meniup tungku api di tempat usahanya, di samping perguruan tinggi, dari tahun ke tahun cara memproduksi selalu sama, pembeli selalu sama, pendapatan selalu sama dan kemiskinan yang tidak berubah. Pekerja yang memakai baju kaos oblong putih, bewajah sangat muda memandang kepada Penulis. Ia adalah anak pandai besi tersebut, yang tamat SMP dan tidak melanjutkan lagi sekolah, karena tidak ada biaya, akhirnya memutuskan untuk membantu usaha orang tuanya. Mereka bahkan tidak pernah mendengar atau bahkan melihat kata riset. Bagi kebanyakan orang Indonesia, riset tidak pernah ada dalam kosa kata mereka.

Apakah “riset” kosakata baru atau apa sebenarnya riset? Banyak sekali definisi riset yang berbeda menurut perbedaan disiplin ilmu. Namun demikian Penulis mencoba untuk memberikan definisi dari ilustrasi berikut. Kita sering mendengar kata-kata “seperti cendawan tumbuh di musim hujan”. Semua orang melihat cendawan tumbuh di musim hujan, kemudian ketika ini dianalogikan maka orang akan mengerti bahwa ada kaitan antara banyaknya air atau suasana yang sejuk dengan tingkat pertumbuhan cendawan. Suatu hari sebuah hotel berbintang lima, di depan perguruan tinggi tersebut, membutuhkan banyak sekali cendawan untuk konsumsi penghuni hotel yang vegetarian. Pemilik hotel siap membeli cendawan dengan harga Rp. 300 ribu setiap kilogramnya. Pada saat yang sama, bukan musim hujan, tapi musim kemarau. Petani yang tinggal di sekitar hotel tersebut, harus menunggu musim hujan yang akan datang 6 bulan lagi untuk dapat memenuhi permintaan tersebut. Pemilik hotel yang tidak ingin kehilangan tamu, akhirnya memesan cendawan impor dari Australia.

Pandai besi yang juga seorang petani percaya bahwa cendawan hanya tumbuh di musim hujan. Pada tahun berikutnya karena desakan ekonomi yang sangat kuat, sementara masih ada anaknya yang lain, belum bayar uang sekolah, tiba-tiba dingatkan sesuatu, bahwa bukankah hujan itu air, dan air tidak mesti hujan. Idea itu datang begitu saja. Kemudian ia, mulai berfikir lebih dalam, kenapa ia tidak mencoba untuk memercikkan air pada tempat yang biasa tumbuh cendawan pada saat musim hujan, di jerami hasil panen musim yang lalu, di belakang rumah. Iya, tidak yakin pada kesimpulan awalnya bahwa, “air tidak mesti air hujan”. Sementara memandikan sapi diwaktu pagi dan petang, ia memercikkan air ke jerami tersebut. Perasaan tidak yakin dan rasa ingin mencoba tersebut, setelah sebulan, ia melihat cendawan telah tumbuh dijerami. Ia tertawa, ide yang datang entah dari mana, terbukti. Selanjutnya, yang terlintas di kepalanya adalah besok ia akan mencabut cendawan tersebut dan menjualnya ke pemilik hotel tersebut. Selanjutnya sepanjang tahun si petani dapat menjual cendawan meskpun di musim kemarau dengan cara yang sama. ia dapat mencukupi kebutuhan keluarga dan menyekolahkan semua anaknya.

Petani tersebut di atas telah melakukan riset tanpa disadarinya. Jadi sebenarnya semua orang punya pengalaman riset dalam hidupnya meskipun dengan sangat sederhana. Seseorang yang mempunyai masalah dan ia tidak punya jalan keluar, kemudian, ia punya sebuah ide yang datang dari sumber yang ia sendiri tidak tahu, namum ia tidak yakin pada idenya tersebut, ia mencoba untuk menyelesaikan dengan ide tersebut. Ternyata idenya berhasil, ia telah melakukan riset. Secara formal riset tidak juga harus berhasil memecahkan masalah. Jadi riset bukan dilihat pada hasil, tetapi pada urutan pekerjaan yaitu: mempunya masalah, menpunya idea untuk menyelesaikan, mencoba ide tersebut dengan merasa tidak yakin, menemukan bahwa idea itu berhasil atau tidak. Perbedaan pekerjaan riset dengan mengerjakan sesuatu yang sudah ditunjukkan adalah, kita merasa yakin bahwa petunjuk itu akan berhasil.

Riset yang dilakukan di perguruan tinggi didukung oleh peralatan yang cukup, sehingga, ketika sebuah riset tidak berhasil, akan selalu didapat manfaat, misalnya periset berikutnya tidak mengulangi hal yang sama atau menemukan hipotesa lain. Meskipun demikian pada prinsipnya riset masih sama seperti perumpamaan di atas. Kata “air tidak mesti air hujan”, itu dinamakan dengan “hipotesis”. Petani yang memercikkan air ke jerami dinamakan dengan “eksprimen”.

Bagaimanapun seperti semua tindakan lain yang kita kerjakan, riset juga memerlu motivasi, tanpa motivasi, mungkin kita hanya bisa tidur saja, bahkan makan pun tidak ingin. Motivasi riset juga seperti motivasi lain yang disebutkan oleh teori Maslow. Awalnya sesorang termotivasi untuk memperoleh makanan dan yang terakhir adalah untuk memperoleh harga diri. Ini yang membedakan riset yang dilakukan oleh Petani dan Periset di perguruan tinggi. Petani tersebut ingin mendapatkan uang untuk membeli makanan. Periset di perguruan tinggi ingin mendapatkan promosi kenaikan pangkat. Apapun yang memotivasi seseorang melakukan riset tidak akan mendiskualifikasi riset itu sendiri, kecuali kejujuran tentang: adanya masalah, idea yang asli, eksperimen dan apapun hasilnya. Salam.

Entry filed under: Biarkan Teknologi Berinovasi. Tags: .

baik2. Pendidikan Tinggi Orientasi Pasar rindu3. Arus Informasi. Hati-hati memilih

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Kategori

Kalender

Januari 2009
S S R K J S M
    Feb »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

Arsip


%d blogger menyukai ini: