baik2. Pendidikan Tinggi Orientasi Pasar

13 Januari 2009 at 10:42 Tinggalkan komentar

Bismillah. Pendidikan Tinggi kita mau dibawa kemana? Ini pertanyaan yang sering kita dengar, namun jawabannya jarang kita dengar, bilapun ada jawaban, jawabannya sering tidak kita pahami. Beberapa jawaban untuk ini antaranya menjadikan “manusia yang bermanfat untuk nusa dan bangsa”, “manusia yang mandiri” atau banyak lagi jawaban lainnya yang kadang sulit untuk menemukan hubungannya dengan kebutuhan dasar kita. Kebanyakan jawaban menjadi sangat idealis, yang menimbulkan lebih banyak lagi pertanyaan yang akhirnya membingungkan.

Dalam perencanaan sebuah lembaga pendidikan tinggi, Penulis pernah mendapat tugas membuat “Rencana Strategis 10 Tahun Politeknik Negeri” pada tahun 2002, Setiap lembaga pendidikan perlu menyiapkan visi dan misi. Selanjutnya visi dan misi diterjemahkan dalam tiga kelompok pengembangan yaitu: Pengembangan Kurikulum, Pengembangan fisik and Pengembagan Staf. Sebelum menyusun Rencana tersebut penulis telah membaca beberapa Rencana Strategis Universitas lain di Indonesia dan luar negeri, Kebanyakan dari referensi lebih pada “menjadi nomor 1 di geografi tertentu”. Sebenarnya Visi seperti ini memang kita perlukan, namun yang lebih diperlukan adalah memenuhi kriteria-kriteria nomor satu tersebut. Salah satu criteria dari pemeringkatan pendidikan tinggi yang dilakujan oleh Times Higher Education adalah keterserapan di industri. Penulis tertarik untuk meninjau hal ini lebih dalam.

Penilaian keterserapan industri sering memberikan jawaban yang tidak disukai. Pimpinan perguruan tinggi, tidak menyukai untuk mengadakan survei ini secara sungguh-sungguh. Penulis pernah bertemu dengan lulusan fakultas teknik sebuah perguruan tinggi negeri yang yang menjadi “tukang tempel ban”. Lulusan tersebut menceritakan bahwa ia telah mencari kerja kemana-mana tapi tidak diterima. Apakah sebuah perguruan tinggi dapat menerima kenyataan ini? Bila kita dengan ikhlas ingin memperbaiki tentu harus diterima. Ada lagi cerita lain, tentang pimpinan perguruan tinggi negeri yang mengundang alumni yang yang sama selama 10 tahun untuk berbicara di depan mahasiswa baru, karena memang hanya seorang alumni yang dapat di banggakan selama jangka waktu tersebut.

Dengan pengalaman penulis bekerja di pabrik semen, Penulis dapat menemukan bahagian jawaban yang nantinya dapat dikatikan dengan keseluruhan jawaban. Peralatan yang digunakan di pabrik tersebut pada saat Penulis bekerja, tidak diperkenalkan di perguruan tinggi, selama Penulis mengikuti kuliah. Penulis ingat bagaimana temperature “kiln” penggiling semen, diperlihatkan pada monitor komputer, data temperature “kiln” dikirimkan ke sgnal analyzer oleh “thermocople” yang terpasang di bodi “kiln”. Penulis tidak dapat memahami system tersebut, karena selama mengikuti kuliah tidak pernah di perkenalkan “thermokopel”, “signal analyzer”, bahkan komputer pun baru tersedia, pada semester akhir. Bagaimanapun penulis telah mendapatkan teori tentang peralatan tersebut.

Pendidikan di perguruan tinggi tidak berhubungan dengan industri. Ini adalah masalah yang ditemui oleh kebanyakan lulusan perguruan tinggi kita. Beberapa perguruan tinggi yang lebih maju, sepeti ITS, ITB, UI atau lainnya di pulau jawa dengan sumber daya yang lebih baik dapat mengatasi gap ini. ITS Surabaya, tahun 2000, bahkan memiliki instalasi turbin gas yang diperuntukkan untuk praktek mahasiswa. Ini tentunya untuk menjawab kebutuhan industri pembangkit tenaga, agar lulusan tidak asing dengan keadaan sebenanya, kelak bila telah lulus. Terlalu ekstrim untuk mengatakan bahwa apapun peralatan yang dimiliki oleh industri, seharusnya perguruan tinggi juga haru memiliki, jika ingin mereka terserap oleh pasar. Masalah kelengkapan laboratorium menjadi sangat penting. Ini adalah sisi pengembangan fisik, salah satu dari sisi pengembangan.

Melihat dari sisi kurikulum, sebenarnya kurikulum yang telah ada tidak terlalu tertinggal dengan indutri. Memang beberapa perubahan perlu dilakukan, menyangkut penggunaan komputer yang sudah sangat meluas. Penggunaan komputer grafis seperti CAD dan CAM seharusnya sudah harus menggantikan kemampuan secara manual, karena semua industri maju sudah menggunakan komputer untuk mendesain dan produksi. Penulis melihat perubahan kurikulum perlu dilakukan menyangkut waktu praktek dengan bantuan software.

Pengembangan Staf, kelompok yang ketiga, menjadi masalah yang paling besar dari pengamatan penulis khususnya perguruan tinggi di Aceh. Staf pengajar melanjutkan studi bukan pada bidang yang berkaitan. Umpamanya, seorang staf dari Juruan bahasa Ingrish melantjutkan studi pada bidang parawisata. Bagaimana kontribusinya untuk penerapan kurikulum? Tentu sangat tidak efektif. Hal tersebut tidak hanya terjadi di jurusan bahasa Inggris, tapi juga terjadi di jurusan teknik sipil, teknik elektro, teknik mesin dan lainnya.

Dalam perencanaan strategies perguruan tinggi, secara expelisit dan implicit sudah di jelaskan tentang bagaimana pengembangan masing-masing kelompok secara detail. Rencana Strategis tersebut disetujui oleh senat bahkan diketahui oleh lembaga yang lebih tinggi seperti Direktorat Pendidikan Tinggi. Tapi mengapa masalah ini tidak juga dapat kita selesaikan? Apakah tidak pengawasan? Akan teruskan lulusan perguruan tinggi kita tidak sinkron dengan industri? Salam.

Entry filed under: Ada Rencana Perbaikan. Tags: .

poli2. Laboratorium Komputer. XT286 ATX486 nova2. Petani juga bisa riset

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Kategori

Kalender

Januari 2009
S S R K J S M
    Feb »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

Arsip


%d blogger menyukai ini: