nova1. 1000 Jam, Bosan, Ganti CBM

7 Januari 2009 at 20:12 Tinggalkan komentar

Bismillah. Perawatan mesin adalah pekerjaan yang membosankan, dibandingkan membeli atau melihat mesin bekerja. Penulis yang sebelumnya sangat ingin merawat mesin, pada satu waktu menemukan kebosanan. Tahun 1995, Penulis mengikuti Management Trainee di Power Station PT Semen Andalas Indonesia, tepatnya di Power Station Department. Department tersebut memiliki 5 buah Mesin pembangkit Niigata, 9200PS. Masing-masing mesin berukuran sebesar mini bus. Sebuah mesin selalu di siapkan, sementara 4 buah dihidupkan. Keempat mesin dihidupkan sekaligus dengan jarak masing-masin 4 meter. Getaran disekitar mesin sekitar 2 skala Ricter, kebisingan memekakkan telinga. Setiap operator yang bekerja mesti mengunakan penutup telinga dan saringan udara, karena debu yang sangat banyak di sekitar pabrik.

Pekerjaan rutin sudah menanti setiap hari, tidak bisa di tolak, mesti dilakukan, itu arahan dari pabrik pembuat mesin. Operator harus merekam temperatur oli, ruang bakar dari panel. Setiap mesin mempunyai jadwal perbaikan menurut jam misalnya, 1000 jam, 2000 jam, 5000 jam. Ini dinamakan “periodical maintenance”. Pekerjaan pembersihan filter udara untuk mesin membutuhkan chemical karena bertumpuknya debu. Ruang bakar juga perlu periksa secara rutin untuk membersihkan kerak yang menumpuk akibat pembakaran yang tidak sempurna atau bahan bakar yang kurang berkualitas. Ukuran piston mencapai 60 cm, bandingkan dengan piston sepeda motor 100cc yang hanya 8 cm. Pekerjaan mengangkat di bantu oleh “overhead traveling crane” dengan kapasitas 2 ton.

Sebuah engine diantara lima engine tersebut mengalami masalah yang tidak dapat diselesaikan, asap keluar dari bak penampung oli. Ketika di periksa, piston tidak bermasalah. Di mana penyebabnya? Mengingat kebutuhan tenaga yang tidak boleh terputus, maka mesin terus dihidupkan, sementara periodical maintenance harus di lakukan. Kekhawatiran selalu ada, tapi jawabannya adalah tanggung jawab “periodical maintenance” sudah dilaksanakan dan pengecekan mesin tidak ada masalah. Hal ini berlangsung terus menerus.

Kondisi mesin yang bermasalah dimana engineer dan operator tidak dapat menyelesaikannya dan cenderung membiarkan, yang kadang menyebabkan “black out”, umum terjadi di setiap industri, termasuk industri perminyakan. mengapa? Mereka punya target produksi, misalnya saat itu pabrik Semen Andalas menargetkan produksi 1 juta ton pertahun, hitungannya perhari mereka harus memproduksi sekitar 3000 ton. Kasus yang lebih ekstrim adalah pada industri perminyakan, dimana target export sudah di tentukan oleh APBN misalnya 600 ribu barel perhari. Teriakan operator maintenance untuk menghentikan mesin, tidak terdengar. Sampai terdengar suara ledakan mesin “black out”. Saat itu kehilangan produksi diterima sebagai takdir, bukan sebagai kesalahan perencanaan dan pelaksanaan perawatan. Hal tersebut sering terjadi di industri Pembangkit Tenaga Listrik, Perminyakan, Perusahaan Air Minum atau Industri tranportasi. Kita menerima akibat, listirk mati, air tidak keluar, atau bakan pesawat “delay”.

Teknologi perawatan yang berdasarkan jangka waktu, hanya membutuhkan operator yang kuat, rajin, tekun tapi tidak perlu cerdas. Mereka punya otot yang besar untuk membuka baut dan mur. Hasil riset di angkatan laut Amerika Serikat tahun 1990, di pangkalan kapalnya bahwa perawatan periodik sering membuat kondisi mesin yang sebelumnya baik menjadi lebih buruk. Ini karena saat dilakukan pemasangan kembali, terjadi kesalahan. Dalam banyak kasus kondisi mesin sebenarnya dalam keadaan baik sebelum dilakukan perawatan. Kejadiannya yang lain, sebuah mesin yang sudah dilakukan perawatan periodik dan ternyata ada masalah, seperti asap yang keluar dari bak penampung oli, tidak dapat terjawab. Dalam hal tersbut, operator perawatan tidak mau berfikir lebih panjang karena perawatan periodik sudah dilakukan.

Sekarang sudah ditemukan sebuah teknologi perawatan yang mulai menggantikan fungsi perawatan periodik. Teknologi ini dinama “condition based mainentance (CBM)” atau “perawatan berdasarkan kondisi”. CBM prinsipnya menilai mesin dengan standar kondisi. Dua metode CBM yang dikenal luas yaitu analisa getaran mesin dan analisa oli atau tribology. Analisa getaran lebih popular dan memiliki kapasitas untuk menilai hampir semua sumber ketidaknormalan ketika mesin beroperasi seperti: adanya kelonggaran baut, misalignment (ketidaklurusan), imbalance (ketidak seimbangan), kerusakan bantalan, bahkan kondisi oli yang sudah mesti diganti. Teknologi ini bekerja dengan prinsip, “mesin yang sedang beroperasi jangan dihentikan untuk di rawat, kecuali diketahui pasti apa penyebabnya”.

Keberhasilan Teknologi CBM bergantung pada pada 4 hal yaitu: sensor, signal analyzer, standar kondisi dan brainware. Teknologi ini keluar dari disiplin ilmu mesin menuju elektronik, suatu keniscayaan sekarang ini bahwa electronik dan mesin harus dikawinkan. Mengapa teknologi ini baru diperkenalkan? Masalahnya adalah pada biaya. Tahun 90an harga sensor di pasaran mencapai 20 juta per buah. Signal analyzer berkisar 200 juta rupiah. Sekarang seperangkat sensor and “signal analyzer” dapat diperoleh dengan harga 65 juta rupiah. Standar kondisi belum diketahui sepenuhnya seperti saat itu, umpamanya, bagaimana kondisi getaran jika terjadinya keretakan kecil pada poros? Ini belum di temukan. Sekarang hampir semua keadaan mesin telah dapat dikaitkan dengan pola getaran, riset yang berkatian sangat banyak dilakukan, termasuk yang sedang dilakuan oleh Penulis. Brainware adalah orang yang yang mengoperasikan, membuat laporan setelah menggunakan tiga alat tadi. Ini sebuah tantangan mendidik operator yang mau mengandalkan otak daripada otot.

Jika CBM berhasil diterapkan secara maksimal di setiap industri, maka akan terjadi penghematan sangat besar. Penghematan biaya, tenaga dan waktu. Salah satu pengaruh untuk kita adalah terhindarnya putus aliran listrik ketika kita sedang menonton sinetron favorit. Yang lebih menarik adalah blackout tidak mungkin terjadi karena setiap perubahan yang mikro dari kondisi mesin telah ditangkap oleh sensor, lebih awal.

Penerapan CBM telah dimulai sejak 30 tahun lalu di industri perminyakan, perkapalan, tenaga di eropah dan Amerika Serikat, namun untuk Asia baru di kenal 10 tahun lalu. Tahun 2008, Penulis pernah bertemu dengan seorang Professor dari sebuah Institute Teknologi di Thailand, ia mengatakan bahwa Thailand baru akan menerapkan teknologi ini, secara meluas. Dr. Abdul Ghaffar Abdul Rahman, supervisor Penulis, memperkenalkan CBM pada industri peminyakan, Pembangkit Tenaga Listrik, Transportasi di Malaysia, sejak 10 tahun lalu. Bagaimana dengan Indonesia? Salam.

Entry filed under: Biarkan Teknologi Berinovasi. Tags: .

baik1. Salah Prioritas, Dagangan Tidak Laku rindu2. Tulisan Untuk Rakyat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Kategori

Kalender

Januari 2009
S S R K J S M
    Feb »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

Arsip


%d blogger menyukai ini: