baik1. Salah Prioritas, Dagangan Tidak Laku

6 Januari 2009 at 22:32 2 komentar

Bismillah. Mengapa orang Indonesia lebih suka datang ke Malaysia untuk bekerja? Bekerja di Malaysia akan mendapatkan gaji yang jauh lebih besar dibandingkan dengan di Indonesia. Seorang pekerja “cleaning service” di Malaysia memperoleh gaji sebesar 2 juta rupiah perbulan, bandingkan dengan di Indonesia yang hanya 1 juta rupiah, bahkan di beberapa kantor pemerintah dimana cleaning service sudah dikontrakkan mungkin tidak sampai 1 juta rupiah. “Cleaning service” adalah sebuah bentuk dagangan seperti kita menjual sepatu, rokok, atau pesawat terbang sekalipun.

Pemilik rumah sakit pemerintah daerah di Indonesia, tidak dapat membayar para perawat dengan gaji yang lebih besar karena pemasukan daerah juga kecil, Seperti yang pernah diberitakan di sebuah Koran local, bahwa salah satu rumah sakit pemerintah di Lhokseumawe tidak punya cukup uang untuk dioperasikan. Pemerintah kota saat itu ingin melepaskan tangung jawab kepada Pemerintah Kabupaten. Pemerintah tidak punya cukup uang untuk membayar gaji pegawai seperti di Malaysia. Mengapa?

Penulis tertarik membaca beberapa media massa di Indonesia dan di Malaysia melalui internet. Tempo interaktif, Serambi Indonesia, The Star malaysia dan Berita Harian menyajikan berita yang menurut penulis dapat dipercaya mengenai Politik, ekonomi dan social. Penulis menemukan perbedaan yang sangat signifikan antara pemberitaan media di Indonesia dan di Malaysia, yaitu masalah investasi asing. Di Malaysia, hampir setiap hari berita investasi dalam rubrik ekonomi, misalnya pendirian pabrik Kenderaan bermotor Nissan di Selangor pada tahun 2006, Perluasan Monash University cabang Malaysia tahun 2007. Berpuluh-puluh Pabrik  investasi asing didirikan setiap tahun di Malaysia. Beberapa merek elektronik yang terkenal adalah “made in” Malaysia, seperti Pioneer, NEC, dan JVC. Sementara itu berita ekonomi Koran Indonesia hanya mengenai privatisasi oleh BPPN. Berbulan-bulan proses penjualan Bank International Indonesia kepada Maybank tidak selesai, itu menjadi santapan empuk media untuk membahasnya. Berita tentang BPPN seperti tidak pernah selesai. Pemilik bank yang melarikan diri belum ditemukannya. Tidak ada satupun investasi asing yang signifikan diberitakan.

Bila makanan sudah habis, Penulis yang berdomisili di Pandai Dalam, Kuala Lumpur, lebih menyukai berbelanja di Carefour MidValley yang berjarak, 1 km dari rumah, dan dapat ditempuh dengan kenderaan umum. Carefour menyediakan berbagai kelengkapan hidup dari sikat gigi hingga sepeda motor. Pusat perbelanjaan swalayan itu termasuk yang terbesar dan terlengkap di Kuala Lumpur.  Indonesia juga memiliki banyak cabang Carefour, seperti di Jakarta dan Medan. Yang menarik perhatian penulis saat berjalan di sepanjang rak barang yang di jual, hampir tidak ada produk “made in” Indonesia. Produk pakaian tertulis “made in” Bangladesh. Produk makanan buatan Thailand. Produk Electronik buatan Malaysia dan China. Dimana produk buatan Indonesia? Tahun 2003, Penulis mendapat kesempatan untuk tinggal di Melbourne, Australia selama setengah tahun. Carefour, seperti biasa memiliki cabang di seluruh Dunia, termasuk di Merlbourne. Disana penulis tidak menemukan satu barangpun “made in” Indonesia kecuali Indomie.

Memandang kedua hal di atas sebagai sebuah kebenaran, investasi asing dan volume export, penulis memiliki keyakinan ini adalah kunci dari peningkatan pendapatan sehingga “income per capita” penduduk dapat bertambah, sehingga pemerintah dapat memperoleh pemasukan pajak yang lebih besar. Pada gilirannya pegawai pemerintah dapat dibayar dengan gaji yang lebih besar. Pertanyaannya bagaimana mengundang investasi asing dan menembus pasar global sebagai suatu kerangka ekspor?

Mengundang investasi asing, tentunya tidak semudah yang dibayangkan. Saya pernah membaca headline sebuah koran lokal di Indonesia, salah seorang gubernur yang baru terpilih berkata: “kita membutuhkan investor yang gila, yang bersedia membangun jalan tol di provinsi kita”. Penulis belum pernah mendengar bawa ada investor yang gila, tetapi sebaliknya banyak orang yang gila karena keinginan menjadi investor tidak terlaksana. Investasi asing memiliki syarat, seperti yang sudah dipenuhi oleh China, India atau Malaysia, yaitu pertama, ketersedian tenaga kerja yang trampil tapi lebih murah. Kedua kemudahan perizinan untuk mendirikan pabrik. .

Baik, sekarang kita bicara tentang, ketersediaan tenaga kerja trampil dan murah. Tenaga kerja trampil tersedia di Negara-negara maju, seperti Uni Eropa, Jepang dan Amerika Serikat. Tenaga kerja murah tersedia di Africa dan Asia. Namun, Investasi asing tidak menyukai Negara-negara Eropa dan Amerika karena mereka harus membayar gaji yang tinggi. Tapi jika pabrik didirikan di Africa, tidak tersedia tenaga kerja yang trampil. Tenaga kerja yang terampil dan murah hanya tersedia di Cina, saat ini, wajar jika mereka “boom” investasi asing. Ini menyebabkan hampir semua pabrikan membuka usaha di Cina. Sony yang sebelumnya mempunyai pabrik di Malaysia ,pada tahun 2000, menutup usaha dan memindahkan pabrik ke Cina karena upah tenaga kerja yang lebih murah di Cina. Tenaga kerja yang terampil hanya dapat diperoleh dengan system pendidikan yang baik. Bagaimana dengan system pemdidikan kita?. University of Beijing, setiap tahun masuk dalam ranking 20 Dunia, sementara sepuluh ranking pertama selalu diduduki oleh Universitas di Amerika Serikat. Malaya University, sebagai universitas tertua di Malaysia pernah mendapatkan ranking 87 pada tahun 2005. Tahun 2008, Universitas Indonesia masuk dalam kelompok 300 terbaik dunia. Ranking untuk universitas dikeluarkan oleh Time Higher Education setiap tahun. Lembaga pemeringkat ini bekerja dengan independen, dengan katagori penilaian yang jelas.

Word Bank mengeluarkan profil ekonomi tiap negara di Dunia menurut surveri di kalangan investor asing.  Tahun 2007, waktu yang diperlukan untuk mendirikan sebuah pabrik di Cina, 7 Hari sejak permohonan disampaikan. Malaysia cukup 21 hari.  Indonesia perlu 36 hari. Mengapa sebuah negara membutukan waktu lebih lama dari yang lain. Penulis ingat, suatu hari diajak oleh seorang saudara yang bekerja di perusahaan kontruksi untuk mengeluarkan barang impor kebutuhan konstruksi gedung dari sebuah pelabuhan di Indonesia, sesampainya di kantor pelabuhan kami melalui beberapa meja untuk mengurus administrasi. Ada 6 meja yang harus dilewati, setiap meja, diselipkan amplop dengan jumlah ratusan ribu rupiah. Jika tidak diberikan, akan menghambat urusan. Apa ini yang membuat kita lebih lama?

Jika kedua syarat di atas terpenuhi, maka investasi akan mudah datang. Mengenai infrastruktur, seharusnya tidak menjadi prioritas pemerintah sebelum jelas pemanfaatan dan sinergi dengan kegiatan investasi. Beberapa pelabuhan alam yang dibangun di Indonesia Timur pada tahun 1970, hanya menjadi monumen, sedikit sekali kapal yang berkunjung kesana, karena tidak ada barang yag diangkut, karena tidak ada investasi disana. Memang kita memerlukan jalan tol untuk transportasi, tetapi itu bukan prioritas untuk percepatan pertumbuhan ekonomi. Jika investasi dan produksi sudah berkembang maka infrastruktur seperti pelabuhan dan jalan akan dapat dibangun dengan pinjaman dari Negara asal investasi. Ini yang menjawab pertanyaan mengapa negara peminjam, seperti Jepang, Amerika Serikat, Korea, lebih menyukai membangun jalan raya menuju pelabuhan dari pada membangun rumah sakit atau panti asuhan. Ini untuk memudahkan produk mereka yang di rakit di Indonesia untuk di angkut ke pasar dunia.

Menurut Elfian Effendi, salah seorang pakar ekonomi pembangunan Indonesia, Direktur Greenomics, hanya tiga pilar ekonomi yang penting untuk diamati, yaitu produksi, distribusi dan konsumsi. Ketiga hal itu perlu diperhatikan, diawasi dan dikendalikan sehingga ekonomi sehat. Penulis sangat setuju dengan pendapat itu. Selebihnya Penulis melihat bahwa semua kita pada hakekatnya mempuyai fungsi pedagang, artinya kita menjual barang atau jasa untuk memporoleh uang. Masalah yang kita hadapi sebagai pedagang selalu sama, yaitu, bagaimana dagangan kita bisa laku. Pasar seharusnya menjadi objek untuk diamati. Apa yang dibutuhkan pasar dan kapan pasar membutuhkan dagangan kita.

Pasar seharunya menjadi fokus utama, karena pasar yang akan membeli. Kita harus menanyakan pasar. Ini kesalahan yang dilakukan oleh salah seorang menteri tenanga kerja Indonesia di era Presiden Suharto dulu, yang bekas komandan kapal selam. Ketika beberapa perusahaan asing ingin mendirikan pabrik silikon di Indonesia, ia menolaknya. Menurutnya, Indonesia padat tenaga atau banyak orang, jadi tidak memerlukan penanaman modal yang padat teknologi. Menteri tersebut tidak melihat pasar ke depan. Sehingga pemilik pabrik tersebut akhirnya melirik Malaysia. Pabrik tersebut akhirnya didirikan di Penang, salah satu wilayah kepulauan di Malaysia. Ternyata pasar yang kita hadapi saat ini dan kedepan adalah kebutuhan informasi teknologi. lihatlah hampir setiap mahasiswa di perguruan tinggi mempunyai komputer pribadi saat ini. Komputer pribadi membutuhkan banyak sekali komponen yang terbuat dari silikon.

Apa yang menjadi dagangan kita ternyata tidak dimintai oleh pasar. Ketika saya di Asutralia, salah satu produk Indonesia yang saya lihat di sebuah toko adalah baju kemeja dengan harga 50 Dollar Aus. Setelah 6 bulan saya di sana, dan kembali lagi ke toko terebut, barang itu masih tergantung, tidak laku. Padahal baju buatan Cina dijual dengan harga hanya 20 Dollar Aus saja.

Berdasarkan pengamatan penulis, ekonomi yang sehat sebenarnya keterkaitan antara, persiapan tenaga kerja yang trampil, kemudahan investasi, pegamatan pasar yang terus-menerus. Hal ini seharusnya menjadi tanggung jawab pemerintah untuk memulainya. Hal Ini yang harus menjadi prioritas dalam perencanaan anggaran. Kita ingin mendengar, 10 universitas di Indonesia masuk 10 rangking pertama dunia mengantikan posisi Amerika serikat. Selanjutnya kita ingin mendengar, perijinan investasi di Indonesia, 48 jam kerja selesai. Adanya infomasi harga produk yang terbaru, yang mudah diakses oleh masyarakat dalam pasar global. Penulis punya keyakinan dengan prioritas ini, dagangan kita akan laku, dan “income” kita akan bertambah. Impossible is Nothing! Salam.

Entry filed under: Ada Rencana Perbaikan. Tags: .

poli1. Selamat Datang Karir nova1. 1000 Jam, Bosan, Ganti CBM

2 Komentar Add your own

  • 1. Abi Royan  |  11 Januari 2009 pukul 00:56

    Penulis mendapat kesempatan untuk tinggal di Melbourne, Australia selama setengah tahun. Carefour, seperti biasa memiliki cabang di seluruh Dunia, termasuk di Merlbourne. Disana penulis tidak menemukan satu barangpun “made in” Indonesia kecuali Indomie ……… Apa yang menjadi dagangan kita ternyata tidak dimintai oleh pasar. Ketika saya di Asutralia, salah satu produk Indonesia yang saya lihat di sebuah toko adalah baju kemeja dengan harga 50 Dollar Aus. Setelah 6 bulan saya di sana, dan kembali lagi ke toko terebut, barang itu masih tergantung, tidak laku. Padahal baju buatan Cina dijual dengan harga hanya 20 Dollar Aus saja.(what wrong???? Be patient with argumen >>>KEEP SMILE)

  • 2. Abi AIS  |  15 Januari 2009 pukul 00:45

    setuju!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Kategori

Kalender

Januari 2009
S S R K J S M
    Feb »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

Arsip


%d blogger menyukai ini: