batas1. Mengasihi. Pekerjaan yang Terlewat

2 Januari 2009 at 11:31 Tinggalkan komentar

Bismillah. Ustaz Umeir memberikan ceramahnya tentang mengasihi. Menurutnya kebanyakan kita sepertinya sudah melupakan salah satu perintah Allah untuk mengasihi. Mungkin kesibukan kita lebih banyak tertuju untuk kegiatan beribadah rutin.

Pada suatu masa ada seorang Ulama yang mempunyai banyak sekali murid yang bersedia berbuat apa saja untuk dirinya, seperti membelanya bila diganggu oleh orang lain. Satu kelompok pemuda yang menempati desa yang sama dengan ulama tersebut, masih belum juga bertobat. Mereka sangat membencinya, sehingga pada suatu ketika, ulama tadi dilempari dengan pasir ketika berpapasan. Dengan baju yang penuh berlumuran pasir, ia kembali ke rumahnya. Di rumah beberapa orang pemuda yang juga muridnya, melihat keadaannya yang sangat lusuh, bertanya: “apa yang terjadi wahai Alim?”. Ulama itu menjelaskan apa yang sesungguhnya.

Dengan penuh kemarahan, para murid itu bertanya: “ijinkan kami untuk membalas dendam yang guru?” Ulama menjawab: “jangan lakukan, biar kita minta Allah membalasnya”. Murid-murid itu, yang tidak suka membantah kemudian menyetujuinya. Mereka berfikir bahwa sebentar lagi mereka akan mendoakan para pemuda yang mengganggu tersebut agar di laknat Allah dan mendapat celaka. Ulama berkata: “nanti ketika saya berdoa, jangan bertanya apapun, hanya ucapkan “amin””. Mereka mengiyakan. Mulailah Ulama berdoa: “Ya Allah ampunilah mereka, rahmatilah mereka, tunjukilah mereka, kasihanilah mereka, pemuda yang mengangguku tadi hanyalah orang-orang yang tidak mengetahui”. Murid-murid tadi yang sudah berjanji untuk mengaminkan doa, tidak dapat memprotes tiap patah kata doa diucapkan, kecuali mengucapkan: “amin”.

Ada lagi cerita lainya, bahwa ada seorang pelacur yang dosanya sudah menumpuk banyak sekali, suatu hari ia melihat seekor anjing yang sangat kehausan, kemudian ia membuka sepatunya untuk dijadikan timba. Ia menimba air untuk di berikan minum anjing tersebut. Pelacur tersebut mendapat rahmat Allah karena rasa kasihannya.

Penulis Pahami:

Mengikuti jalan lorong setapak dari Kuala Lumpur Sentral ke Station Monorel Briekfield adalah perjalanan yang menyenangkan karena Penulis dapat melihat banyak sekali orang yang datang dan pergi dari station pusat kota itu. Mereka berwajah india, cina, asia bahkan Arabia dengan pakaian yang beraneka warna dan kebanyakan menjinjing tas. Mereka baru tiba di Kuala Lumpur. Wajahnya memancarkan kegembiraan yang luar biasa dan terus tersenyum. Biasanya mereka akan melanjutkan perjalaan menuju tempat wisata atau mencari tempat penginapan.

Namun ada pemandangan yang bertolak belakang di lorong tersebut. Atap lorong yang ditumpang oleh tiang besi di sebelah kiri dan kanan menjadi tempat bersender pengemis atau “begger”. Mereka umumnya mengalami ke catatan yang permanen seperti kehilangan kaki, tangan atau bahkan kedua-duanya. Mereka tidak meminta dengan menengadahkan tangan tapi hanya meletakkan kotak kosong di depannya.

Melihat kondisi mereka yang demikian Penulis ingin memberikan uang setidaknya 1RM, tapi melihat kebanyakan orang tidak memberikan, Penulis bertanya pada diri sendiri: “kenapa saya harus memberikan padahal orang lain tidak, apakah nanti tidak dilihat orang lain aneh?” Penulis masih berjalan terus di lorong yang panjangnya 100m dan bertemu lagi dengan pengemis lain yang matanya buta, ia memegang tongkat sambil berdiri. Dengan mengabaikan orang lain, Penulis kembali ingin memberi 1RM. Ketika Penulis sudah merogoh kantong, terlihat nyata bahwa orang tersebut bukan sesuku dengan Penulis, ia India, ia Cina, Ia tidak jelas, yang jelas bukan Melayu, bukan orang seperti saya. Pertanyaan muncul dalam benak penulis, “apa ia bukan Budha?”, “apa ia bukan kristen?”, “apa ia bukan atheis?”. Akhirnya Penulis batal memberikan uang kepadanya. Ia yang tidak dapat melihat tentunya tidak mengetahui Penulis sudah membatalkan memberi kepadanya, bahkan ia tidak tahu apa yang ada di pikiran Penulis. Ia hanya tersenyum konstan.

Penulis terus berjalan hingga sampai di ujung lorong, berhenti dan melihat kebelakang. Disana sudah 4 orang pengemis yang masing-masing buta, putus tangan, putus kaki dan tanpa tangan dan kaki. Kemudian Penulis bertanya kepada diri sendiri: “perlukah saya menunggu sehingga tidak ada lagi orang yang berjalan di lorong ini, sehingga rasa malu karena “berbeda” tidak ada lagi” dan “perlukan saya menunggu sehingga mereka semua pengemis disana berasal dari suku yang sama dan berideologi sama dengan Penulis?”, “Bagaimana dengan seekor anjing yang tertolong dapat melahirkan rahmat Tuhan bagi si Penolong?”. Salam.

Entry filed under: Pembatas yang Sejuk. Tags: .

rindu1. Salam Pertama Sekali panggil1. Ranub Lampuan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Kategori

Kalender

Januari 2009
S S R K J S M
    Feb »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

Arsip


%d blogger menyukai ini: