baik5. Belajar di Malaysia bukan Kebetulan

Bismillah. 3000 orang Iran berada di Malaysia pada tahun 2009. Sebagian besar dari mereka adalah pelajar di perguruan tinggi di Malaysia. Perjalanan dari Iran ke Kuala Lumpur membutuhkan biaya RM3000, sedangkan perjalanan dari Banda Aceh ke Kuala Lumpur paling mahal RM200. Penulis yang sempat berkunjung ke Universitas Putra Malaysia melihat sendiri banyaknya populasi mereka disana. Mengapa pelajar dari Iran bersedia datang ke Malaysia? Apakah perguruan tinggi mereka tidak lebih baik dari perguruan tinggi di Malaysia?

Keberhasilan perguruan tinggi di Malaysia menarik minat mahasiwa asing untuk melanjutkan pendidikan disini, bukan suatu yang kebetulan. Beberapa faktor yang terlihat jelas berbeda dengan kondisi di Indonesia adalah: penggunaan bahasa Inggrish sebagai bahasa pengantar, peringkat perguruan tinggi di peringkat internasional, ketersediaan laboratorium yang memadai dan kualifikasi staf pengajar.

Bahasa Inggrish di Malaysia adalah bahasa percakapan. Pengemudi taksi atau penjual pakaian sekalipun dapat berbicara bahasa Inggris dengan baik. Di Perguruan tinggi, bahasa Inggris dipergunakan dalam penyampaian mata kuliah dan penugasan-penugasan. Meskipun kadang bahasa melayu juga dipergunakan, namun itu bukan kebiasaan. Teknisi di laboratorium dan pegawai administrasi dapat berbicara bahasa Inggris dengan mahir. Buku teks dan “instructional manual” di laboratorium ditulis dalam bahasa Inggris. Hal tersebut memudahkan mahasiswa asing untuk berinteraksi di perguruan tinggi. Mereka umumnya telah menguasai bahasa Inggris sebelumnya di negara asal.

Akses terhadap informasi hampir tidak terbatas atau hampir sama dengan perguruan tinggi yang berada di negara maju, menjadikan perguruan tinggi Malaysia sebagai daya tarik yang paling penting. Penulis dapat membandingkan jumlah koleksi perpustakaan Monash University di Melbourne dengan Perpustakaan di Univeristas Malaya, hampir sama. Koneksi internet dengan kecepatan maksimal 100MBps dapat dimiliki oleh setiap mahasiswa dengan mendaftar pada bagian informasi universitas. Akses pada internet wireless dapat diperoleh hampir disemua tempat umum di kampus seperti kantin. Sejumlah journal international dari berbagai bidang ilmu seperti engineering, biology, social dapat diakses secara tidak terbatas melalui jaringan internet di kampus. Universitas membeli hak akses tersebut hampir 1 juta RM per tahun. Sciencedirect dan IEEE adalah penerbit journal yang cukup popular di kalangan mahasiswa. Perpustakaan juga memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk memesan buku yang dibutuhkan bila tidak tersedia di perpustakaan.

Mahasiswa dapat melakukan riset dengan ketersediaan peralatan laboratorium lebih dari cukup. Pemerintah Malaysia mendukung sepenuhnya kegiatan riset di perguruan tinggi. Mahasisa program doktor di Universitas Malaya dapat memohon maksimal dana riset sebesar 90 ribu RM selama masa kuliah yang dibagi dalam 3 tahapan, masing-masing 30 ribu RM. Mahasiswa yang melakukan riset hampir tidak pernah mengeluh tentang tidak tersedianya peralatan di laboratorium. Hampir setiap semester dilakukan penambahan peralatan laboratorium dan penggantian peralatan laboratorium yang telah ketinggalan zaman.

Kualifikasi staf pengajar mendapat prioritas dalam pengembangan staf. Syarat yang ketat untuk memperoleh promosi pada jenjang dosen senior, professor madya atau professor penuh, memacu staf pengajar untuk memperbanyak artikel ilmiah yang ditulis. Kebanggaan staf pengajar dalam bentuk “berapa jumlah artikel ilmiah miliknya yang telah dimuat di journal international”. Jumlah artikel ilmiah yang berhasil di muat akan menentukan jenjang karir di perguruan tinggi. Riset yang dilakukan membuat mereka selalu “update” terhadap perkembangan ilmu pengetahuan di bidang yang ditekuni. Sementara penghasilan mereka lebih dari cukup untuk membetahkan mereka di kampus. Dosen baru mendapat gaji RM3.000 per bulan dan Professor RM10.000.

Kegiatan kampus yang didukung oleh ketersediaan peralatan laboratorium yang selalu diperbaharui, perpustakaan yang lengkap dan staf pengajar yang berkualifikasi menjadikan perguruan tinggi di Malaysia menjadi pilihan yang cukup menarik untuk mahasiswa asing dari timur tengah, asia tenggara dan Africa. Bagaimana dengan biaya?

Biaya kuliah dan biaya hidup yang murah menjadikan Malaysia tujuan mahasiswa dari 77 negara di dunia.

Biaya kuliah di Malaysia jauh lebih murah dibandingkan dengan di Negara yang menyediakan fasilitas yang sama. sebagai perbandingan, pada tahun 2005 program doktor di Universitas Malaya hanya membutuhkan biaya USD400 per semester sementara Monash Univeristy meminta USD5000 per semester, pada tahun 2002. tahun 2005, Monash Universty berada pada peringkat 30 dunia dan Malaya Univeristy di tingkat 87.

Sewa kamar USD60 per bulan dan makan USD0.3 sekali makan, bukanlah harga yang mahal dibandingkan dengan kota-kota besar lainnya di Asia seperti Jakarta atau Bangkok. Transportasi kota yang berintegrasi antara bus kota, Light Rail Transportation (LRT), Monorel dan Train menjadikan kota Kuala Lumpur mudah di jangkau dari semua tempat. Keteraturan, kebersihan, keindahan, keamanan dan “kemoderenan” kota-kota di Malaysia merupakan daya tarik tersendiri yang membuat perguruan tinggi di Malaysia diminati. Salam.

Iklan

17 Februari 2009 at 19:03 1 komentar

poli6. Rencana Program Studi Baru. Ada Honornya.

Bismillah. Tahun 2002, “kita diminta Dikti untuk membuat perencanaan membuka program studi baru yang berbeda dengan program studi yang telah ada di Indonesia” Pembantu Direktur I mengatakan kepada staf Jurusan Teknik Mesin. Pernyataan ini bagi Penulis seperti tugas-tugas yang lain, menjadi tantangan untuk selesaikan. Tim kerja dibentuk, Penulis menjadi wakil ketua. Apa yang harus dikerjakan dirancang dengan baik seperti survei pasar, kurikulum, laboratorium dan staf pengajar.

Pekerjaan merencanakan program studi baru sesungguhnya bukan pekerjaan yang mudah meskipun dapat dikerjakan. Namun pengarahan paling awal dari Pembantu Direktur membuat pekerjaan ini menjadi tidak cukup alasan untuk dikerjakan dengan cara yang lebih bertanggung jawab. Pembantu Direktur I juga menambahkan bahwa pekerjaan ini nantinya ada honor yang tersedia. Kenapa program studi baru harus dibuka? Ini yang seharusnya menjadi pertanyaan pertama dalam perencanaan. Pertanyaan ini hanya dijawab dengan “dikti meminta” dan “ada honor yang tersedia”.

Pembahasan pertama dimulai dengan apa kemungkinan progam studi yang dapat dikembangkan, dijawab dua macam: Produksi dan Konversi Energi. Karena ini pengalaman pertama dari tim beberapa istilah harus dipahami cukup lama. untuk mendefinisikan “stakeholder” membutuhkan diskusi berjam-jam sebelum sepakat batasan-batasannya. Akhirnya panitia menyadari istilah itu adalah institusi yang akan menggunakan lulusan dari progam studi yang direncanakan nantinya.

Daftar pertanyaan untuk diajukan kepada Industri disiapkan untuk melihat kemana kecenderungan industri terhadap pilihan progam studi yang diusulkan tadi. Perusahaan Listrik Negara atau PLN menjadi salah satu stakeholder yang dipilih untuk memberikan masukan, disamping PDAM, PT Arun, PT PIM dan PT AAF. Dari hasil survei, kebanyakan industri membutuhkan program studi yang lebih mengarah kepada Teknik Konversi Energi. Jawaban pertanyaan yang terkait dengan kebutuhan pengoperasion ketel, turbin, pompa dan kompresor mendukung kesimpulan di atas. Sebagian besar industri yang ada di Aceh memang lebih banyak menggunakan alat-alat konversi energi dibandingkan dengan alat produksi seperti mesin CNC, “electro plating” atau mesin-mesin produksi lainnya.

Kurikulum dikembangkan menurut kebutuhan keahlian yang dibutuhkan oleh industri. Sebagai contoh, Industri yang mengunakan pompa dalam proses operasinya membutuhkan operator yang mengerti cara kerja pompa dengan baik. Mata kuliah “pompa” tentunya harus dimasukkan dalam kurikulum. Beberapa mata kuliah mengajarkan turbin dan kompresor juga dimasukkan disamping mata kuliah pokok jurusan mesin seperti pengendalian otomatis, getaran mekanik dan menggambar mesin. Mahasiswa harus diperkenalkan peralatan laboratorium yang terkait dengan teori yang diberikan.

Jika teori pompa telah diberikan di kelas maka praktek pompa menjadi kewajiban untuk memenuhi kebutuhan kurikulum. Mengatasi masalah ketersediaan peralatan laboratorium, Penulis mengusulkan untuk memagangkan mahasiswa di industri sehingga mereka nantinya dapat melakukan praktek langsung disana. Kegiatan magang yang dikaitkan dengan keberadaan mahasiswa di industri masih merupakan pola yang hangat didiskusikan, tapi belum dilaksanakan di Indonesia saat itu. Usul ini datang dari informasi adanya kerjasama politeknik dan industri di negara maju seperti Swiss dan Belgia. Mahasiswa politeknik di negara tersebut melakukan kerja praktek di industri dengan jumlah jam yang sama dengan mereka berada di kampus. Salah seorang pekerja asing di perusahaan Tripatra, yang bekerja lapangan minyak Duri, Riau menceritakan hal tersebut kepada Penulis.

Pengembangan laboratorium untuk mendukung pembelajaran di kelas adalah hal yang mutlak. Saat itu, laboratorium yang berhubungan dengan Teknik Konversi Energi tidak dimiliki oleh Jurusan Teknik Mesin. Sebagai perbandingan, Program studi Teknik Konversi Energi yang dikembangkan di ITS, Surabaya, memiliki satu unit turbin gas yang dapat membangkit listrik 200 kW, yang menjadi tempat praktek mahasiswa yang bersangkutan. Beberapa peralatan laboratorium yang sebelumnya telah dimiliki oleh jurusan Teknik Mesin tidak berhubungan langsung dengan program studi yang direncanakan. Hal tersebut pasti menjadi sebuah masalah jika progam studi ini dibuka nantinya.

Bagaimana dengan staf pengajar? Staf pengajar yang miliki oleh jurusan saat itu hanya satu orang master yang memiliki latar belakang Teknik Konversi Konversi. Kurikulum hanya dijalankan oleh Staf Pengajar, tanpa staf pengajar yang berkompeten kurikulum tidak ada makna dalam pendidikan. Mata kuliah teori dan praktek laboratorium yang terkait dengan pompa hanya dapat diajarkan oleh staf pengajar yang memiliki pengetahuan yang baik tentang pompa. Semakin baik latar belakang penguasaan materi dan praktek seorang staf pengajar dalam satu mata kuliah maka akan semakin baik kualitas penerapan kurikulum kepada mahasiswa. Masalah ketersediaan staf pengajar yang sesuai dengan kurikulum terjawab dengan rencana pengembangan staf pengajar pada jenjang yang lebih tinggi sesuai dengan program studi yang direncanakan.

Kerja keras perencanaan pembukaan program studi baru akhirnya dapat diselesaikan dalam bentuk sebuah laporan kerja yang siap untuk dikirim ke Dikti. Ini sesuai dengan harapan Pembantu Direktur, perencanaan selesai dan tim mendapat honor. Tahun 2008, 6 tahun setelah perencanaan tersebut dibuat, Program Sudi Teknik Konversi Energi belum lagi dibuka di jurusan Teknik Mesin. Kenapa? Apa yang terjadi dengan perencanaan yang telah dikirim ke Jakarta tersebut? Salam.

16 Februari 2009 at 19:34 Tinggalkan komentar

Batas7. Bukan Menikmati Gatal

Bismillah. Duduk di depan malu atau duduk di belakang tidak kelihatan. Penulis mencoba untuk memposisikan diri dalam Surau Al Hikmah untuk mendengarkan ceramah mingguan yang berjudul “menikmati nikmat Allah”. Ustaz Umeir yang selalu memakai baju jubah putih dan sorban dengan kuncir dibagian belakang dengan wajah “cool” memperhatikan semua jamaah yang sudah siap menyantap santapan rohani. Penulis sungguh kelihatan lapar saat itu dan memilih posisi di depan untuk mendapatkan semua “porsi hidangan” secara lebih mudah.

Dengan semangat tidak hanya memakai satu model baju dari Romawi atau mencontoh baju orang Romawi, baju melayu berwarna putih selalu Penulis pakai untuk menghadiri ceramah. Sebagian besar jamaah juga memakai baju warna putih meskipun ada yang berbeda model. Baju warna putih bukan kewajiban dalam surau tersebut, namun yang dirasakan oleh Penulis adalah kesiapan dan penghormatan. Penulis masih ingat ketika Salah seorang Adik Penulis melaksanakan walimahtuursi, keluarga yang perempuan semua memakai baju seragam berrmotif dan warna sama. mereka tentunya ingin lebih menghormati pengantin, siap melayani dan bukan ingin berbeda.

Menurut Ustaz Umeir, Nikmat Allah sungguh banyak, namun kita tidak memperhatikannya. Salah satu kenikmatan yang besar adalah napsu terhadap lawan jenis. Allah menciptakan kita berpasang-pasangan sehingga bila kita menginginkannya, mereka telah tersedia. Menikmati nikmat Allah harus dalam batasan yang Allah tentukan. Keinginan terhadap lawan jenis dibatasi oleh Allah hanya terhadap lawan jenis yang halal. Allah membuat batasan apa yang boleh kita nikmati dan apa yang tidak boleh. Menikmati apa yang didalam batasan Allah tidak mengurangi keindahan nikmat itu sendiri. Menikmati nikmat di luar batasan Allah menyebabkan kita melarat meskipun itu terasa seperti sebuah kenikmatan, seperti kenikmatan menggaruk gatal.

Menggaruk gatal menimbulkan nikmat yang semua orang pernah merasakannya. Gatal yang disebabkan oleh faktor apapun, bila digaruk menyebabkan kita ingin mengaruk lagi. Siapa yang memungkiri ini? Hanya dokter! Setelah kita tidak tahan lagi terhadap gatal yang mungkin sudah menyebabkan luka, kitapun mengunjungi dokter. Ia pasti meresepkan obat, memantangkan beberapa macam makanan dan melarang menggaruk. Kita mematuhi semua perintah dokter kecuali menggaruk. Pulang dari dokter, kita masih terus menggaruk. kenikmatan menggaruk sangat berkesan. Beberapa hari kemudian luka bertambah parah karena kesan yang ditinggalkan oleh garukan.

Ketenangan mental yang bebas rasa takut dan kekacauan pikiran juga sebuah kenikmatan. Bagaimana kita mendapatkannya selama ini? Sebagian orang mengatakan bahwa ketenangan hati diperoleh dengan duduk di café atau bar dengan mendengarkan musik hingga larut malam. Diskotik juga dipenuhi oleh orang-orang yang penat bekerja di siang hari. Allah SWT mengatakan bahwa dengan menngingat Allah hati akan tenang. Merencanakan untuk duduk di mesjid seharian dengan niat untuk menenangkan hati dapat menggantikan upaya dengan cara lain. Hilangnya kenikmatan ketenangan hati akan terpancar di wajah. Wajah orang yang hatinya tidak tenang kelihatan kusam dan kalang kabut sementara wajah orang yang tenang jiwanya akan terlihat “cool”.

Penulis Pahami

Signal analyzwer tidak dapat bekerja seperti biasa. Penulis harus menginstall ulang drivernya beberapa kali sebelum menjalankan program aplikasi. Hasil pengukuran diperlukan untuk melengkapi laporan riset. Setelah beberapa kali mencoba, akhirnya Penulis memutuskan untuk pulang, malam sudah pukul 22.00. sesampainya di rumah, Penulis memutuskan untuk langsung tidur. Mencoba tidur tidak semudah mematikan lampu. Kemacetan alat tersebut tidak dapat terlupakan. Pikiran masih pada masalah itu. Setelah satu jam, tepat pukul 23.00, Penulis menghidupkan MP3 Alquran dengan setting timer 60 menit. Satu persatu ayat Al Quran yang dikumandangkan menenangkan hati hingga akhirnya Penulis terbangun di pagi hari dengan pikiran tenang. Keesokan harinya masalah peralatan tersebut sudah ada jalan keluar.

Setahun yang lalu, ajakan untuk duduk di Café Twin Tower susah ditolak. Alasan untuk kesana adalah untuk refreshing setelah kepenatan di laboratorium. Secangkir kopi dari “starbuck” dan pemandangan orang lalu lalang menimbulkan perasaan gembira. Pulang ke rumah perasaan susah muncul kembali. Semangat beribadah memang seperti ombak di laut, kadang turun dan kadang naik. Pada saat naik, semua waktu solat terisi dengan berjamaah. Kadang kelelahan yang teramat sangat mengendorkan semangat untuk tetap berjamaah dan Penulis hanya solat di rumah. Setelah beberapa kali kehilangan solat berjamaah, Penulis mulai merasa gelisah. Kegelisahan itu terus bertambah tanpa mengetahui sebab sesungguhnya.

Penulis mencoba mengingat kapan hati ini pernah terasa tenang dalam jangka waktu yang panjang, bebas dari rasa takut dan mudah tertidur. Ternyata saat itu adalah saat Penulis rajin solat jamaah di mesjid. Ketenangan hati harus dibeli dengan mengorbankan rasa penat dan mengalahkan pikiran untuk meninggalkan solat jamaah karena kesibukan. Ketenangan hati yang didapat dari solat berjamaah jauh lebih berharga dari hilangnya rasa penat. Salam.

13 Februari 2009 at 00:00 1 komentar

kompu5. Virus juga Software

Bismillah. “Disini banyak sekali debu, ini yang membuat komputer saya terkena virus”, kata paman Penulis ketika ia sedang membuka penutup monitor untuk memperlihatkan kondisi komputernya yang terkena virus. Melihat penulis mengunjugi rumahnya ia berharap komputernya dapat dibersihkan dari virus. Mendengar kata-katanya, Penulis hanya terdiam dan terpikir bahwa pengetahuan kebanyakan pengguna komputer mengenai virus sangat tidak valid. Apa sebenarnya virus?

Kata “virus” awalnya dikenal secara biologi sebagai makhluk hidup yang sangat kecil yang merusak organ tubuh manusia dengan mengisap protein dalam sel untuk berkembang biak. Beberapa virus yang terkenal yang memasuki tubuh manusia seperti : virus influenza dan HIV. Sepertinya Bahasa Ingrish sudah tidak sanggup untuk melahirkan kosa kata baru untuk dunia komputer atau sesuatu yang menyangkut komputer. Kata “virus” juga digunakan dalam hubungannya dengan komputer. Virus yang dimaksudkan ketika berbicara tentang komputer, sama sekali tidak terkait dengan debu yang menyebabkan kita bersin atau terinfeksi virus influenza.

Kata “virus” dalam dunia komputer memiliki makna yang tersendiri yang tidak ada hubungannya dengan virus yang menyerang makhluk hidup. “kenapa dinamakan virus?”. Kesamaan penamaan ini terkait dengan tujuan dari keberadaaannya. Virus dalam dunia komputer dan virus dalam dunia makhluk hidup, keduanya mengakibatkan kerugian pada benda yang diinfeksi dengan merusak bagian yang dihinggapinya. Virus mahluk hidup hingga pada sel makhluk hidup. Virus komputer hinggap pada software komputer bukan pada hardware atau brainware.

Artikel komu3 telah menjelaskan bahwa virus adalah juga software yang mengganggu kerja software yang berguna untuk manusia. Software yang dihinggapi oleh virus seperti: Operating System, Microsoft Office dan lain-lain. bagaimanapun virus bekerja dengan tingkat ancaman yang berbeda, sehingga dapat dibedakan dalam tiga tingkatan: “low”, “medium” and “high”.

Tingkat ancaman “low” seperti memunculkan tulisan pada monitor: “jangan bekerja, hari ini hari minggu”, ketika kita sedang bekerja pada hari Minggu. Beberapa detik kemudian tulisan tersebut hilang dengan sendirinya. Virus jenis ini biasanya menyerang software pengolah kata seperti WS, WP atau Microsoft Office.

Kecepatan komputer berkurang dengan drastis bila terinfeksi virus degan tingkat ancaman “medium”. Ketika kita sedang mengunakan Microsoft Excel dengan tabel yang lumayan besar, untuk berpindah dari satu sel ke sel yang lain, kusor bergerak sangat lamban seperti memindahkan beban. Sofware tersebut mungkin telah terinfeksi virus dengan tingkat ancaman “medium”.

Virus “Brontok” yang terkenal di Indonesia pada tahun 1997 berhasil mengubah semua files dengan ekstension “doc” menjadi extension “exe”, dalam komputer Penulis. File ketikan Microsoft Word menggunakan ekstension “doc” dan file dengan ekstension “exe” adalah file aplikasi atau file untuk dieksekusi. Bagaimana ini bisa terjadi? Mengetahui bagaimana perubahan tersebut dapat dilakukan oleh suatu virus tidak terlalu penting dibanding mengetahui bagaimana membuang virus tersebut. Penulis tidak dapat lagi membuka file-file dokumen tersebut dengan software Microsoft Office meskipun nama file masih sama. Virus jenis ini disebut dengan virus tingkat ancaman “high” atau serius. Beberapa virus dengan tingkatan ancaman serius bahkan dapat merusak hardisk atau hardware.

Meskipun pada awalnya komputer diciptakan untuk mengantikan fungsi manual perkerjaan manusia, namun pada perkembangannya komputer juga dikenal seperi filsafat pisau. Pisau pada tangan ibu rumah tangga akan digunakan untuk memotong sayur-sayuran namun di tangan perampok pisau digunakan untuk menyakiti orang lain. Software komputer dibuat oleh orang jahat untuk tujuan merugikan orang lain dengan tingkat ancaman apapun seperti pisau ditangan perampok. Sementara itu orang-orang yang berniat baik telah membuat ratusan software yang bermanfaat untuk membantu kerja manusia. Salam.

8 Februari 2009 at 20:19 Tinggalkan komentar

Batas6. Baca Alquran untuk Paham

Bismillah. Turun dari laboratorium Getaran Mekanik dari lantai 5 blok R Fakultas Teknik, Solat Ashar di Surau fakultas, Penulis berjalan kaki ke depan Mesjid Ar Rahman dan menumpang bis U80 menuju KL Sentral. Jalan Briekfield selalu penuh sesak dengan orang yang baru datang dan pergi, karena tempat itu merupakan “hub” penghubung monorel dari Titiwangsa dan bus Rapid KL dari Pasar Seni.

Pemandangan di sekitar perhentian bus cukup menggoyang iman. Sebagian besar perempuan Cina berpakaian sangat minim. Mereka seperti tidak pernah berfikir tentang pakaian yang melindungi dari suhu udara yang dingin. Semuanya diperlihatkan kecuali yang memang mereka tidak ingin memperlihatkan. Lihat kiri sama dengan lihat kanan, akhirnya Penulis tetap harus menunduk atau memandang langit.

Satu jam setengah dalam bis U67 bukan waktu yang singkat, ditambah lagi kesesakan sehingga banyak penumpang harus berdiri. Seperti biasa penulis selalu mendapat “berkah” tempat duduk. Menghabiskan waktu untuk membaca buku sementara bus melaju berhasil membuat Penulis menjadi sabar, hingga akhirnya bus tiba perhentian setelah jembatan penyebrangan di depan Surau Al Hikmah, di SS19 Subang Jaya.

Azan telah berkumandang ketika tapak kaki melangkah memasuki pekarangan surau. Mengganti baju yang berkeringat dengan baju melayu putih yang bersih, Penulis berhasil mengikuti solat berjamaah secara penuh. Selesai Solat berjamaah, para santri biasanya bersalaman dengan para jamaah yang lain, sementara Penulis langsung melalukan solat sunat.

Ustaz Umeir melanjutkan ceramahnya dengan kalimat paling awal: “kita adalah orang-orang pilihan, ini adalah majelis yang amat disukai oleh Allah”. Jamaah yang mengikuti ceramah tidak sebanyak jamaah solat. Semua santri melanjutkan pengajiannya di lantai dua surau, sementara sebagian jamaah solat lainnya meninggalkan surau karena ada keperluan. Dalam surau yang indah itu akhirnya hanya tinggal sekitar 30 orang jamaah yang mengikuti ceramah dengan tekun, sebagian besar dari mereka berusia separo baya.

Ustaz Umeir memulai sebuah kisah pada masa setelah wafatnya Rasullullah SAW, masa kalifah Abubakar.ra, Umar.ra dan Ustman.ra. Pada masa Rasulullah dan para khalifah tersebut, mimbar mesjid masih berbentuk tangga dimana ketika Rasulullah SAW masih hidup, beliau duduk pada anak tangga yang paling tinggi sambil menyampaikan khutbah. Ketika Khalifah Abubakar memimpin, saat beliau menyampaikan khutbah, beliau tidak lagi duduk pada anak tangga paling tinggi, tapi turun satu anak tangga. Abubakar.ra mengatakan tidak sanggup untuk duduk di tempat Rasulullah SAW duduk. Beliau menghormati Rasulullah.

Umar.ra menjadi khalifah setelah Abubakar.ra wafat. Untuk menghormati Abubakar.ra, Umar.ra juga turun satu anak tangga, sehingga posisi Umar.ra duduk telah dua anak tangga di bawah posisi Rasulullah SAW duduk. Ia melakukan itu untuk menghormati Rasullulah SAW dan Abubakar.ra sebagai pendahulunya.

Ketika Ustman.ra mengantikan Umar.ra, Beliau duduk pada posisi Rasulullah SAW duduk. Banyak sahabat lain bertanya: “mengapa demikian”? Ustman.ra menjawab: “jika saya turun lagi satu anak tangga maka suatu hari nanti, seorang khalifah akan menyampaikan ceramah dari dasar sumur”. Pernyataan Ustman ini diterima oleh semua sahabat dan sangat masuk akal.

Menurut Ustaz Umeir, memahami ajaran Islam tidak selalu mudah. Beberapa ulama mengatakan bahwa seseorang yang ingin menafsirkan Al-Quran, ia harus memiliki banyak ilmu termasuk “asbabun nuzul”. Melihat kembali tindakan Ustman.ra dibandingkan yang dilakukan oleh Abubakar.ra dan Umar.ra menjadi sebuah contoh dari kesulitan yang dimaksud untuk memahami Islam. Tindakan siapa yang benar? Umar.ra dan Abubakar.ra atau Ustman.ra?

Kejadian seperti contoh di atas juga terjadi ketika perang Shiffin, dimana Ali.ra yang menjadi Khalifah setelah Ustman.ra harus berperang berhadapan dengan Aisyah.ra, padahal Aisyah.ra adalah wanita yang sangat mulia yang sering dirujuk dalam Al Quran sekalipun. Ali.ra sebagai khalifah yang sah memutuskan untuk menegakkan yang benar meskipun terhadap seseorang yang selama ini telah dijadikan tauladan.

Islam memiliki aturan, namun Islam juga memiliki kelonggaran. Mudah untuk kita menemukan aturan Islam, tapi kapan kita dapat menemukan kelonggarannya, sementara kita tidak disebut meninggalkan aturan Islam? Itu sulit tapi ada petunjuk. Mungkin salah satu caranya seperti disebutkan di atas adalah mengenai keterkaitan antara sebuah aturan timbul dengan hal yang lain atau “asbabun nuzul”. Adakah cara lain ketika kita tidak mengetahui “asbabun nuzul”?

Ustaz Umeir mengatakan: “ada”. bacalah Al-quran dengan rutin, misalnya selembar sehari, 10 ayat atau satu ayat sekalipun. Bila seseorang membaca alquran dengan khusuk dan ikhlas secara periodik maka ia akan dapat memahami Islam dimana sebuah kelonggaran mesti dilakukan.

Ustaz Umeir mengumpamakan lagi seorang istri yang dilarang oleh suaminya keluar rumah tanpa ijin, suatu hari rumahnya terbakar, tentu si istri akan keluar rumah bukan? Karena ia tahu bahwa suaminya tidak akan marah, karena ia punya alasan.

Penulis Pahami:

“Saya punya cerita orang Aceh” sebut salah seorang mahasiswa ITS yang berasal dari provinsi lain di Sumatra. Penulis saat itu sedang menikmati pisang goreng dan teh hangat di kantin ITS. Beberapa orang mahasiswa lain duduk mengelilingi meja yang sama. Ia melanjutkan cerita bahwa orang Aceh tidak pernah dapat nonton film di bioskop. Mahasiswa lain bertanya: “kenapa”. Ia menjawab bahwa orang Aceh bila bertemu orang lain selalu mengucap salam dan bersalaman. Mahasiswa yang bertanya tadi masih bertanya lagi: “apa yang salah, bukankah itu baik? Ia menjawab bahwa bagaimana bisa nonton film jika orang Aceh tersebut menyalami semua orang dari deretan paling depan hingga ke belakang.

Kekesalan Penulis terhadap mahasiswa yang bercerita tadi melahirkan tanggapan: “saya sudah seringkali mendengarkan cerita ini, tapi tidak pernah melihat kejadian tersebut, sekalipun ketika saya menonton bioskop di Surabaya, Jakarta, Medan dan Banda Aceh”. Ketika ditanya dari mana ia mendengar cerita itu, ia menjawab bahwa ia juga mendengar dari orang lain.

Sebuah hadis yang pernah disampaikan dalam sebuah ceramah memang dikatakan bahwa Rasulullah SAW mengucapkan salam sekalipun kepada anak kecil. Hadis lain lagi mengatakan ketika kita bersalaman maka kesalahan di antara kita akan berguguran seiring dengan kita menarik tangan. Dengan kedua hadis itu, kita sering kali melihat di Aceh, seseorang yang menghadiri pertemuan dimana ia datang terlambat, mengucapkan salam dan menyalami semua yang telah datang duluan. Tapi ini tidak pernah dilakukan di dalam bioskop. Ini sebuah ejekan, ini bukan kenyataan. Kenapa Penulis dapat mengatakan begitu?

Kembali lagi ke pendapat Ustaz Umeir di atas bahwa, memahami kapan kelonggaran boleh dilakukan adalah dengan membaca Alquran dengan rutin. Penulis ingat bahwa hampir semua orang Aceh dapat membaca Al Quran dan ketika mereka kecil memang diwajibkan oleh orang tuanya untuk mengaji secara rutin setelah solat magrib hingga solat Isya. Kebiasaan ini tentunya akan membuat orang Aceh tahu dimana kelonggaran perlu ditempatkan, sehingga mereka tidak mengucapkan salam di bioskop dan menyalami semua orang. Salam

6 Februari 2009 at 19:07 Tinggalkan komentar

rindu5. Sabun berbusa. koran?

Bismillah. Hari Minggu pagi, masuk kamar mandi, kita biasanya langsung membuka pakaian dan membasahi tubuh dengan air. Setelah merasa tubuh sudah cukup basah, mata akan menuju tempat atau kotak sabun. Melihat sabun sudah habis, terpaksa kita harus menghanduk badan kembali untuk mengambil sabun di rak dapur atau tempat penyimpanan sabun. Bila kita bernasib lebih sial, mungkin harus berpakaian kembali untuk membeli sabun di warung ujung jalan. Warung yang dituju tidak hanya menjual sabun tapi juga menjual koran, majalah, dan sembako. Setelah membeli sabun, kita juga membeli koran, pulang dan mandi kembali menggunakan sabun yang baru dibeli. Membaca koran dan majalah di beranda belakang rumah sambil minum teh menjadi kegiatan selanjutnya setelah mandi dan berpakaiain.

Pagi itu kita telah membeli 2 produk: sabun dan koran. Kita sangat berpengalaman menggunakan produk sabun karena kita tahu persis bagaimana produk itu berinteraksi dengan tubuh kita. Sabun mengeluarkan busa dan bau yang meransang indera penciuman kadang menyebakan mata perih akibat kemasukan cairan sabun secara tidak sengaja. Setelah mandipun kita masih dapat mencium aroma sabun yang membuat kita bersemangat pada hari itu. Bagaimana dengan produk koran? Bagaimana interaksinya dengan tubuh kita? Secara fisik atau mental?

Koran atau tulisan dalam media apapun tidak berinteraksi secara fisik seperti halnya sabun. Hal tersebut bukan karena bahan pembuatnya yang berbeda tapi memang berbeda cara berinteraksi dengan diri kita. Sulit sekali memahami produk koran jika dibandingkan dengan sabun, mobil atau pelayanan rumah sakit, sampai kita dapat menerima klasifikasi produk yang ditawarkan oleh Alfin Tofler. Ia mengatakan bahwa produk dapat dibagi empat yaitu: Barang, Jasa, Informasi dan Image.

Koran yang berada tangan kita, merupakan informasi, itu bukan kertas. Kertas putih kosong berukuran A4 yang dijual di toko alat tulis adalah kertas. Informasi dapat mengunakan media yang berbeda untuk menunjukkan eksistensinya. Sebagian besar berita di koran juga dapat dibaca melalui monitor komputer yang terhubung dengan internet. Monitor komputer menjadi media informasi di samping kertas.

Klasifikasi produk atas media akan membawa kita pada pemahaman yang lebih baik bagaimana informasi berinteraksi dengan pembaca. Interaksi informasi dengan pembaca sama sekali berbeda dengan interaksi barang seperti sabun. Informasi berinteraksi melalui memori atau pengetahuan bahasa yang terdapat pada seorang manusia. Manusia yang memiliki pengetahuan bahasa yang seimbang dengan infomasi yang diterima sajalah yang dapat menikmati informasi. Bandingkan dengan sabun, semua orang yang mempunyai kulit dapat menikmati busa sabun.

Pernahkah kita bertanya, kemana perginya informasi yang telah kita baca? Apa yang tersisa? Apa yang terlewat? Padahal kita tahu persis bahwa busa sabun yang hinggap di badan akan terbawa air pada siraman berikutnya dan menyisakan kesegaran dan keharuman di badan. Akhirnya busa tersebut akan mengalir melalui saluran air menuju sungai atau tempat pengolahan limbah sebelum dialirkan ke laut. Setiap hari kita membaca tulisan di koran, majalah atau buku, kemana informasi mengalir? Bila suatu hari kita tidak membaca koran, kita merasa sesuatu yang tidak lengkap, kenapa?

Seringkali apa yang kita butuhkan lebih sedikit dari yang kita inginkan. Aturan tersebut juga berlaku untuk informasi seperti juga untuk barang. Sikap kita terhadap informasi seharusnya juga sama. Jumlah infomasi yang kita baca setiap hari melalui koran atau majalah sering melebihi dari kebutuhan. Perhatikan sebagian besar orang yang membaca koran setiap hari. informasi apa sebenarnya yang dibutuhkan? Jika manusia tidak dapat melupakan, mungkin memorinya telah penuh hanya dengan membaca koran.

Mengapa hasil jajak pendapat menunjukkan sebagian besar sampel menyukai SBY sebagai calon presiden pada Pilpres 2009? Padahal hanya sebagian kecil dari mereka yang mengenal SBY secara langsung apalagi berjabat tangan. Kebanyakan dari mereka hanya mengenal SBY melalui koran atau media lainnya. Jika mereka tidak pernah mengenal SBY sama sekali, meskipun hanya melalui koran apakah mereka akan memilih SBY juga? Tentu tidak. Inilah “busa” informasi. Informasi menjadikan kita mempercayai orang lain meskipun kita tidak pernah mengenal orang tersebut secara langsung. Koran memberitakan selama pemerintahan SBY banyak sekali koruptor yang dipenjarakan. Pernahkah orang yang memilih SBY melihat penjara yang dimaksud? Koruptor yang dimaksud? Koran yang kita baca dapat mendorong kita mempercayai, membenci bahkan berkorban untuk sesuatu yang kita tidak pernah menginderai secara langsung.

Jika kita memilih barang dengan hati-hati sesuai dengan kebutuhan dan pengalaman kita, bukankah sebaiknya kita juga memilih informasi dengan cara yang sama? saat membeli sabun, kita tentunya punya kriteria seperti yang harum, untuk kulit berminyak atau normal. Kita mungkin memilih merek “lux” karena kita punya pengalaman merek itu sangat berkesan. Pilihlah informasi yang dibutuhkan dan punya bukti yang kuat bahwa informasi itu berasal dari orang yang jujur, ahli, pernah terbukti. Mengetahui kemana informasi mengalir dalam diri kita dan meninggalkan sisa seperti apa, akan membuat kita memilih informasi lebih sadar, bertanggungjawab dan tidak hanya menjadi dikenal sebagai orang yang “suka membaca”. “busa” informasi dapat menimbukan kesan yang lebih dalam dari busa sabun dalam diri kita, tanpa disadari. Salam.

5 Februari 2009 at 22:25 Tinggalkan komentar

nova5. Perbaikan Kualitas. Sehebat Jepang

Bismillah. Seorang calon bupati kepala daerah yang akhirnyanya menjadi bupati berbincang dengan Penulis, sekitar 4 tahun yang lalu setelah Tsunami. Salah satu topik yang dibicarakan adalah “korupsi”. Menurutnya, korupsi tidak dapat dihilangkan, biar bagaimanapun, dia berargumentasi dengan nada datar. Ia menambahkan bahwa Singapura yang negara lebih majupun tetap ada korupsi. Penulis yang ingin mendengarkan kata-kata yang lebih “patriotik” kehilangan harapan terhadapnya. Di akhir masa kepemimpinannya setelah 2 tahun, ia ternyata diduga terlibat korupsi.

Berbicara masalah kualitas, itu tidak mengatakan bahwa suatu jasa atau produk sama sekali berkualitas atau sama sekali tidak berkualitas. Jika Bupati tersebut mengatakan bahwa Singapura juga ada korupsi, itu benar. Yang menjadi masalah adalah “berapa persen” dari budget yang akhirnya dikorupsi. Adanyan korupsi adalah suatu yang alamiah, namun negara yang peringkat korupsi sangat rendah, tidak alamiah, mereka berusaha menekan persentasi kebocoran budget. Dalam diskusi Perbaikan Kualitas, kita memahami bahwa setiap saat kualitas bisa diperbaiki, dan selalu ada yang bisa di perbaiki. Seperti Penulis sebutkan dalam inovasi4, bahwa perbaikan kualitas dapat diterapkan pada barang ataupun jasa. Korupsi adalah salah satu dimensi dari pelaksanaan tanggung jawab keuangan publik, yang juga dapat dikurangi persentasinya, sehingga pelaksanan keuangan publik lebih berkualitas.

Perbaikan kualitas merupakan kegiatan yang memerlukan penjelasan teknis untuk memahaminya. Penulis akann menggunakan contoh yang telah diberikan pada inovasi3 dan inovasi4. kembali lagi kepada pabrik pembuat pisau “sikiku”. Saat terakhir pembuatan pisau dengan level kekerasan 9, dari 1000 buah pisau yang diproduksi, terdapat 100 buah yang menyimpang, 25 buah pisau level kekerasan bahkan berada pada level 7.

Pemilik pabrik pisau, yang mendapatkan pengaduan dari pemakai melalui telpon “pengaduan konsumen” mulai mengumpulkan data untuk perbaikan. Akhirnya ia menemukan bahwa memang produknya telah menyimpang dari dimensi yang direncanakan sebanyak 100 buah dari 1000 buah yang dibuat. Ini berarti 10% dari produknya menyimpang. Penyimpangan di atas level kekerasan 9 akan merugikan perusahaan, karena pisau yang lebih keras, berarti menggunakan bahan A yang lebih dari 5 ons, padahal bahan A berharga lebih mahal dari bahan B. Penyimpangan dibawah level kekerasan 9, merugikan konsumen. Penyimpangan selalu menyebabkan kerugian salah satu pihak, produsen atau konsumen.

Istilah Perbaikan Kualitas dimaksudkan sebagai upaya untuk mengurangi penyimpangan. Bila diantara 1000 buah pisau hanya 30 buah yang menyimpang, ini lebih baik dari 50 buah pisau. Pemilik pabrik pisau, berfikir keras untuk mengecilkan penyimpangan, umpamanya, dengan memasang AC di ruang kerja, sehingga tidak membuat pekerja menjadi stress karena kepanasan dan melakukan kesalahan. Pembelian alat penakar yang lebih akurat dan semi otomatis juga dapat mengatasi kesalahan pekerja dan menjaga komposisi adonan. Pendek kata, ada banyak pilihan yang dapat dilakukan oleh pemilik pabrik untuk memperbaiki kualitas secara lebih beralasan.

Perbaikan kualitas membutuhkan kesadaran tentang dimensi standar, catatan penyimpangan yang merupakan “feed back” dari konsumen, penemuan penyebab pemyimpangan dan upaya mengatasi penyebab penyimpangan.

Teknologi otomotif Jepang telah diakui sebagai yang terbaik di dunia, pada tahun 2008. Ini di tandai dengan meningkatnya angka penjualan salah satu pabrikan jepang. Toyota melampui jumlah penjualan General Motor (GM), pabrikan Amerika Serikat. Tahun-tahun sebelumnya, merek Toyota memang membuntuti GM, setiap tahun jaraknya bertambah dekat dan akhirnnya dapat dilewati. Saat krisis ekonomi pun Toyota tidak terpuruk seperti GM yang mesti di Bailout oleh Pemerintah US. Keberhasilan Toyota menjadi pemenang untuk kompetisi di dunia otomotif, bukan hal baru. Electronik merek Sony telah menguasai pasar dunia cukup lama, siapa yang tidak mengenal Sony? Sony adalah perusahaan yang memiliki asset sebesar asset sebuah Negara. Di sebutkan kekayaan Sony melebihi cadangan devisa Negara Inggris padan tahun 2002.

Rahasia keberhasilan perusahaan yang berbasis di Jepang disebabkan oleh keberhasilan Manajemen. Tinjauan yang lebih dalam lagi khususnya untuk industri mereka adalah penerapan Perbaikan Kualitas atau di kenal dengan “continous improvement”. Dengan prinsip perbaikan kualitas yang terus menerus, mereka terus berfikit bagaimana mengurangi pemyimpangan produk, sehingga kebanyakan produk mereka mendekati “zero defect” atau penyimpangan yang mendekati nol.

Perbaikan kualitas dapat diterapkan pada barang atau jasa. Untuk penerapan pada barang telah cukup jelas dengan contoh-contoh di atas. Penerapan pada jasa, memerlukan persiapan yang lebih berani namun tetap terukur, misalnya seperti menetapkan dimesi jangka waktu tertentu untuk pelayanan publik. Penulis masih ingat, ketika membuat KTP di kantor lurah, perlu menghabiskan waktu sehari penuh jam kerja, 8 jam. Investor asing, perlu waktu 36 hari untuk mendapatkan perijinan bisnis di Indonesia. pengurusan dokumen impor peralatan produksi memerlukan waktu 2 hari kerja di pelabuhan dan kantor beacukai. Perencanaan Dimensi jangka waktu untuk pelayanan public adalah salah satu contoh dari banyak lagi dimensi yang dapat digunakan.

Perbaikan kualitas adalah upaya yang terus menerus, sehingga kita tetap menerima kenyataan korupsi tidak dapat dihilangkan seperti kata calon bupati di atas, tapi pasti dapat dikurangi. Pada dekade 80-an, Prof. Sumitro, Ahli ekonomi Indonesia, mengatakan bahwa kebocoran dana pembangunan Indonesia sebesar 30%. Bila pada decade 90-an, kebocoran mencapai 40% berarti “penurunan kualitas”. Mungkin dengan banyaknya penangkapan Koruptor saat ini, percentasi kebocoroan menjadi 25%. Bila benar asumsi Penulis, ini bearti “perbaikan kualitas” untuk pengelolaan keuangan publik. Perbaikan kualitas bukan pekerjaan menghilangkan tapi mengurangi penyimpangan secara terus menerus, dengan harapan suatu hari menjadi nol. Salam

4 Februari 2009 at 23:23 Tinggalkan komentar

Pos-pos Lebih Lama


Kategori

Kalender

November 2017
S S R K J S M
« Feb    
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930  

Arsip